Posted by: rleni on: November 8, 2009
Minggu lalu adalah masa-masa UTS. Soal UTS Struktur Aljabar berupa Take Home Test. Jumlah soal ada 5 butir. Buku yang digunakan “Graduate Texts in Mathematics 73. Algebra.” Ditulis oleh Pak Thomas W. Hungerford. Soal diberikan hari Rabu 28 Oktober 2009. Dikumpul hari Selasa 3 Nopember 2009.
Hampir setiap hari Kami membahas itu soal. Begitu dapat soal, langsung bahas nomor 1. Dari pukul 13.00 – 17.00 gak selesai. Bersambung esok hari. Pada jam yang sama. Gak ada kemajuan. Hari Jumat libur bahas soal. Kuliah penuh dari jam 13.00 – 17.00. Sabtu lanjut lagi bahas soal yang sama. Dari jam 9.00 – 14.00.
Kesimpulannya adalah bahwa kami mengetahui apa yang diinginkan soal. Kemudian kami mengetahui juga perangkat-perangkat yang harus digunakan. Definisi, Teorema, Corollary, dan hal-hal yang sejenis. Tapi masih mentok juga Boo…
Senin 2 Nopember 2009. H – 1. Terpaksa harus selesai neh. Jam 9.00 – 14.00 dikupas tuntas. Masalah berikutnya adalah bagaimana mengetik berlembar-lembar penyelesaian soal-soal tersebut dalam semalam. Ya… di coba saja.
Sepulang kuliah jam 18.30 gak mungkin langsung ngetik. Main bersama anak-anak dulu. Jam 19.30 tidur. Bangun jam 21.30. Pekerjaan mengetik dimulai.
Ditemani segelas nescafe coffemix. Padahal saya gak suka ngopi. Satu nomor soal dan penyelesaian diketik oleh suami. Ke-empat soal dan penyelesaian, saya yang ketik. Berharap pukul 2 dini hari nanti selesai. Menjelang jam 2.00 gak ada tanda-tanda rampung. Baiklah. Mudah-mudaha jam 3.30 kelar. Biar saya bisa mempersiapkan bekal makanan buat hari ini. Menjelang jam 3.30 gak ada tanda-tanda selesai. Duh. Mudah-mudahan jam 4.30 selesai. Biar bisa berangkat kerja. Ternyata gak selesai juga. Ya… terpaksa hari ini bolos.
Akhirnya jam 7.00 pagi baru selesai. Mau diprint nih. Baru kurang lebih satu minggu ini saya menggunakan Ms Word 2007. Jadi belum terbiasa. Dan tadi malam selain Ms Word 2007, saya juga mengunakan Ms Visio 2003, dan Mathtype 5.0. Waktu ngeprint gak sesuai harapan. Lemes. Kalau gak bisa diprint gimana nih. Sudah tidak bisa marah-marah lagi. Kehabisan tenaga. Alhamdulillah suami masih belum berangkat. Masalah langsung ditangani suami.
Setelah sukses ngeprint saya tidur. Jam 7.30 – 10.00. Bolos kerja. Gak kasih kabar. Bingung. Alasan sakit gak tepat. Lha wong saya gak sakit. Ijin? ijin apaan? Lagian pengalaman sebelumnya ketika saya minta ijin karena mau mengantar anak saya dihari pertama dia sekolah. Gak mulus. Maka dengan berbesar hati saya menerima kalau besok saya “dipanggil” kepala sekolah. Biarlah itu jadi takdir saya besok.
Siang ini ada kuliah pengganti. Beberapa teman tidak hadir. Yang hadir masih pada lemes. Sinyal lemah. Mata cuma 2 watt. Habis ngelembur.
Posted by: rleni on: October 23, 2009
Setelah beberapa bulan merasakan lagi menjadi siswa. Banyak hal yang mewarnai hidup saya. Saya yang biasanya menguji siswa dengan soal-soal, kini deg-deg-an karena diuji dengan soal-soal UTS.
Ketemu teman-teman yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang pendidikan. Dari yang kelahiran tahun 1950an sampai dengan kelahiran tahun 1980an. Yang masih ting-ting, muda kelewat tua belum (kalau yang ini saya
), sampai yang sepuh. They are nice guys.
Saya dan sebagian teman mengambil 12 sks. Tiga mata kuliah. Salah satu yang saya rasa paling berat (karena semuanya berat nih) adalah struktur aljabar.
Mempelajari struktur aljabar seperti membahas sesuatu yang tidak diketahui seperti apa ya wujudnya
Sepertinya dari setiap sesi perkuliahan, yang memiliki frekuensi sama hanya segelintir mahasiswa saja (dengan sang dosen tentu).
Yang lain? sinyalnya putus-nyambung-putus-nyambung. Seperti judul lagu BBB. Seperti berada didunia lain. Like in the middle of nowhere (Duh apa artinya neh?).
Buka-buka catatan kuliah struktur aljabar waktu S1 sebelas tahun yang lalu. Wah… hebat juga ya, dulu saya bisa lulus menempuh Struktur Aljabar 1 dan 2.
Posted by: rleni on: October 22, 2009
Berbeda dengan saya yang kalau masak nasi hanya untuk hari itu saja. Pembantu saya tuh, kalau masak nasi di rumahnya suka borongan. Maksudnya memasak nasi untuk lebih dari satu hari. Namun sayangnya kadangkala itu nasi cepat basi. Terutama kalau sudah lewat satu hari.
Dia kemudian bercerita dengan pembantu rumah sebelah. Si bibi di sebelah rumah memberikan sebuah tips. Yaitu: pada saat menanak nasi, tambahkan air perasan jeruk nipis. Dengan takaran: untuk seliter beras membutuhkan lebih kurang 1 sendok teh air perasan jeruk nipis.
Pembantu rumah saya terus mencoba di rumahnya. Dia bilang sih sukses. Apakah rasa nasi tidak berubah kalau diberi air perasan jeruk nipis? Tanya saya. Beliau bilang sih tidak merubah rasa.
Selamat mencoba.
Posted by: rleni on: September 10, 2009
Lyra. Nama anak kedua saya. Seorang perempuan. Lahir pada hari Rabu 5 April 2006.
Saya mengandung Lyra, ketika anak pertama berusia tujuh bulan. Keruan saja hal ini mengundang berbagai komentar dari orang-orang sekeliling saya. Saya sempat bersedih hati. Suami sering membesarkan hati saya.
Ketika dalam kandungan Lyra tidak menyulitkan saya. Yang saya ingat ketika itu saya suka sekali makan tahu goreng tepung dan gado-gado. Pun ketika lahir. Saya pergi kebidan jam 4.00 pagi. Lyra lahir jam 05.10 pagi itu juga.
Kata Lyra diambil dari salah satu nama murid saya. Pada tahun 2002 ada salah satu siswa yang bernama Lyra Bellatrix. Unik. Tertarik dengan nama itu, saya mencari tahu artinya. Lyra sendiri bisa merupakan nama sebuah alat musik. Lyra bisa juga merupakan nama salah satu mata uang. Namun demikian Lyra Bellatrix yang dimaksud sepertinya berkaitan dengan bintang. Karena kedua kata tersebut saya temukan dalam kamus Astronomi milik suami saya.
Rasi bintang Lyra sudah merupakan bagian dari daftar 48 rasi bintang Ptolemy dan juga satu dari 88 rasi bintang modern yang diakui oleh IAU. Lyra tidak terlalu besar, tetapi tetap mudah ditemukan karena bintang utamanya, Vega, adalah juga titik dalam “segitiga musim panas“. Mulai dari utara, Lyra dikelilingi oleh Draco sang naga, Hercules sang pahlawan Romawi, Vulpecula sang rubah kecil dan Cygnus sang angsa.
Bellatrix sendiri juga merupakan nama salah satu bintang. Artinya “female warrior” . Bintang ini juga disebut Gamma Orionis.
Menurut suami, wajah Lyra lebih mirip saya. Padahal giginya lebih mirip gigi suami saya tuh. Jarang-jarang. Lyra adalah seorang anak yang ceria. Dia yang sering keluar pintu terlebih dahulu untuk menyambut kedatangan saya. Tersenyum dan kemudian tertawa-tawa. Melompat-lompat sambil menyerukan kata Ibu. Pernah suatu ketika karena terlalu bersemangat melompat, dia jatuh terpeleset. Jadi nangis deh.
Kalau baru bangun tidur dia suka cerewet sekali. Menanyakan banyak hal. Padahal saya masih terkantuk-kantuk. Pernah suatu hari di bulan Ramadhan ini, Lyra bangun setelah waktu sholat subuh. Seperti biasa tanya ini-itu. Sementara saya masih terkantuk-kantuk. Jadi jawabnya dalam keadaan antara sadar dan tidak.
Saya berharap Lyra menjadi orang yang soleha. Aamiin.
Posted by: rleni on: September 6, 2009
Akhir tahun 2004 saya dan suami membeli satu unit rumah didaerah Cimanggis. Rumah kelas menengah produk pengembang.
Rumah tersebut tidak langsung ditempati. Hanya sebulan sekali kami menengoknya. Setelah sekian lama, baru diketahui bahwa salah satu kusen jendela pintu belakang dimakan rayap. Kusen pada bagian bawah jendela. Jendela yang bersebelahan dengan pintu belakang. Pintu ini adalah penghubung jika ingin ke halaman belakang.
Bagian yang sudah dimakan rayap itu terasa kopong. Maksudnya jika disentil terasa ada ruang kosong didalamnya. Akhirnya saya coblos pakai pisau. Bolong. Kopong. Panjangnya sekitar 10 cm.
Bagaimana ya? Mau ganti kusen? Belum ada dana. Akhirnya melalui bagian yang bolong itu saya siram cairan karbol (desinfektan). Dengan harapan karbol meresap dan kayu kadi gak yummi lagi buat rayap.
Tahun 2007 menjelang kami pindah, kusen tersebut baru bisa kami ganti. Ternyata bagian yang pernah dimakan rayap itu tidak meluas. Berarti cairan karbol yang pernah saya siram telah sukses membuat rayap kabur. Alhamdulillah.
Gak lama setelah kami pindah, kusen pintu kamar utama yang terasa kopong. Wah mulai dimakan rayap nih. Saya siram kusen tersebut dengan cairan karbol. Mungkin seharusnya sebelum dipasang. Kusen dilumuri dengan karbol dulu kali. Kemudian di jemur.
Posted by: rleni on: August 30, 2009
Senang rasanya ketika mendapat kabar bahwa saya adalah salah seorang peserta International Master Program on Mathematics Education at Utrecht University, the Netherlands. Tapi bersamaan dengan itu saya mulai sering dilanda sakit perut. Sebelumnya gak pernah tuh. Sakit yang menurut sebagian orang tanda-tanda awal gejala stress. Mungkin stress karena akan meninggalkan anak-anak untuk sementara waktu.
Saya menyampaikan kabar gembira ini kepada kepala sekolah. Bagaimana nih? Saya kan masih guru PTT belum jadi guru PNS. Kepala sekolah gak bisa kasih keputusan. Telpon ke Dinas dulu. Informasi dari Dinas bahwa guru-guru PTT sedang dalam proses menjadi CPNS. Kalau saya mengikuti program beasiswa ini maka saya harus melepas status kepegawaian saya. Karena saya meninggalkan tugas mengajar. Masalahnya adalah Dinas tidak bisa memberi penjelasan sudah berapa prosen proses tersebut berlangsung.
Menjelang hari-H saya harus ke Surabaya untuk mengikuti matrikulasi. Ternyata pada saat yang bersamaan ke-dua anak saya sakit. Saya memutuskan batal berangkat. Biarlah. Anggap saja belum rejeki.
Namun demikian, saya tetap mencari informasi pendaftaran program magister matematika. Saya dan dua orang guru dari sekolah saya mendaftar program magister di Universitas Indonesia. Yang diterima dua orang. Dua guru matematika. Alhamdulillah.
Kami mendapat bantuan dana. Dana blockgrand SBI dari pemerintah untuk guru-guru MIPA yang sedang mengikuti program pascasarjana linier. Linier maksudnya adalah jika guru matematika maka dia sedang menempuh program magister matematika atau pendidikan matematika. Di perguruan tinggi yang berakreditasi A. Tidak meninggalkan tugas mengajar.
Seperti yang pernah saya ceritakan pada artikel sebelumnya bahwa beberapa bulan lalu, kami guru-guru PTT di sekolah saya “mengintip” NIP kami. Kami yang berjumlah 13 orang ini mengunjungi sebuah sebuah instansi yang terletak dibilangan Ciracas.
Antara percaya dengan tidak percaya. Karena angka-angka yang sangat kami dambakan itu hanya ditulis tangan. tidak tahu absah atau tidak. Ya sudahlah. Namanya juga usaha. Tunggu saja tanggal mainnya.
Akhir bulan Juli 2009 ada kabar gembira bahwa sebagian guru PTT mendapat undangan untuk mengambil SK CPNS. Di sekolah saya ada 5 orang guru PTT yang mendapat surat tersebut. Kelima orang ini tentu sangat berbahagia. Akhirnya hal yang dinanti-nanti itu datang juga.
Kami yang belum diundang ada 7 orang. Berusaha menganalisis apa kira-kira yang mendasari pemilihan kelima orang ini. Supaya kami bisa memprediksi siapa kira-kira yang beruntung pada tahap berikutnya. Hasil analisis kami adalah kelima orang ini berusia kritis (berumur lebih dari 40 tahun), ada guru yang pensiun pada mata pelajarannya, dan yang terpenting adalah NIP mereka bernomor kecil (4700690aa). Kami mereka-reka urutan nama-nama yang akan diundang berikutnya.
Kalau memang demikian, maka saya berada diurutan menjelang terakhir. Ya sudahlah saya terima saja. Walaupun masa kerja semua guru PTT sama. Yaitu lima tahun. Saya kan memang berusia paling muda. Paling sebentar masa kerja sebagai guru honor di sekolah ini. Hanya satu tahun. Sedangkan teman-teman ini ada yang sudah menjadi guru honor disini sejak tahun 1994.
Pertengahan Agustus 2009 kabar gembira itu datang lagi. Kabar yang ditunggu-tunggu oleh guru-guru PTT se-DKI Jakarta. Undangan untuk mengambil SK CPNS.
Seperti biasa, pagi itu saya kesekolah. Di depan gerbang salah seorang satpam menyalami saya dan menyampaikan selamat. Saya cuma cengar-cengir saja. Karena si Bapak ini suka bercanda. Sampai dimeja guru piket salah seorang teman menyalami saya dan menyampaikan selamat. Dari dia, saya baru tahu bahwa saya adalah “tamu” berikutnya. Alhamdulillah. Terharu.
Buyar semua analisis yang pernah kami buat. Semoga tahap berikutnya semua teman-teman yang tersisa mendapat giliran.
Posted by: rleni on: August 25, 2009
Walaupun sudah kelas X SMA, terkadang masih saja ada siswa yang melakukan kesalahan pada operasi tambah, kurang, kali, dan bagi pada bilangan. Terutama kalau sudah menyangkut pindah ruas. Berikut ini salah satu cara agar siswa mengingat kembali dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Buatlah seperangkat kartu yang berisi contoh operasi yang salah dan contoh operasi yang benar. Seperangkat kartu tersebut sebaiknya sewarna. Satu set kartu dimainkan oleh empat orang siswa.
Dalam permainan ini siswa diminta mengelompokkan kartu menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi kartu dengan operasi yang benar. Sedangkan bagian yang lain berisi kartu dengan operasi yang salah. contoh_kartu
Selamat mencoba.
Posted by: rleni on: July 6, 2009
Sore ini baru saja saya mendapat Surat Pemberitahuan Waktu dan Tempat Pemungutan Suara. Model C4 PPWP. Isinya:
Dengan ini memberitahukan kepada Nama Pemilih: (saya), No urut dalam DPT: 103, NIK/ Identitas:xxx, untuk memberikan suara pada acara pemungutan suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden di TPS: 34, Desa/Kelurahan: Cimpaeun, Kecamatan: Cimanggis dilaksanakan pada:
Hari : Rabu, 8 Juli 2009
Pukul : 08.00 s/d 13.00
Tempat/Alamat :Aula Puskemas
Depok, 8Juli 2009
Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara,
Ketua,
(yyy)
Kalau pada Pemilihan Legislatif yang lalu, saya begitu antusias. Malah khawatir tidak tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Karena saat itu saya sudah menetapkan pilihan pada Partai Kesukaan Saya. Alhamdulillah nama saya tercantum dalam DPT. jadilah saya mencontreng Partai Kesukaan Saya. Saya tidak mencontreng nama calon legislatif.
Tapi pada Pilpres ini saya lagi bingung. mau Golput tapi sayang. Banyak orang yang tidak tercantum dalam DPT. Padahal ingin memberikan suaranya. Sedangkan saya yang sudah tercantum dalam DPT kok malah mau Golput.
Bingung milih siapa? Nonton acara debat presiden cuman sekali. Saya nonton debat capres session final. Sebagai calon pemilih, penting bagi saya menyaksikan acara debat tersebut. Bukannya gak mau nonton. TV dirumah saya selalu dibajak oleh anak saya. Buat nonton Play House Disney.
Awalnya saya sudah punya pilihan. Tapi meninjau perkembangan lebih jauh dilapangan. Jadi mau pindah kelain hati deh. Sampai saat ini masih bimbang
Posted by: rleni on: June 4, 2009
Sejak armada bus 43 bertambah banyak. Jurusan Tanjung Priok-Cililitan. Datang silih berganti hampir setiap lima menit sekali. Saya beralih menjadi salah satu pengguna jasa bus tersebut. tersebut. Walau bobrok. Maklum ini bus buangan dari negara lain. Entah korea atau Jepang. Setidaknya menghemat waktu ketika saya ketinggalan bus akap yang biasa saya tumpangi.
Dengan menggunakan bus ini sampailah saya di UKI. Yap. UKI memang lokasi strategis. Banyak penumpang transit disini. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka keluar kota. Sekitar Jakarta. menggunakan bus AKAP.
Tapi mulai 27 Mei 2009 silam. Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) dilarang transit di UKI. HAri Rabu siang saya sudah merasakan gelagat yang tidak baik. Menunggu bus AKAP di pasar Cibinong selama hampir satu jam. Pulang masih selamat. Naik bus AKAP dan sampai rumah seperti biasa.
Hari Kamis 29 Mei 2009 seperti biasa saya naik bus 43. Turun di UKI. Kok gak ada bus AKAP. Tanya dengan Pak Polisi. Disarankan ke Kampung Rambutan. Naik Mikrolet ke Pasar Rebo. Kemudian menyambung lagi ke Kampung Rambutan. Ongkos menjadi bengkak. Belom lagi jajannya. Kelaparan euy. Hari itu perjalanan saya pergi pulang ke tempat kerja 8 jam. Padahal ngajar cuma 2 jam. cape deh…
Hari berikutnya nyaris sama. Nunggu bus AKAP hampir satu jam. Lutut nyaris rontok. Sampai dirumah lebih lama dari biasanya. Rasanya ingin punya mobil sendiri. Seandainya semua penumpang berpikiran sama dengan saya. Kemudian merealisasikan keinginan tersebut. Bakal tambah macet nih Jakarta.
Kapan seh Pemda DKI menelurkan kebijakan yang berdasarkan survei. Yang memihak rakyat banyak. Mungkin kalau saya yang jadi gubernurnya kaleee
Posted by: rleni on: June 4, 2009
Akhir-akhir ini tengah ramai dibicarakan kasus yang menimpa Prita Mulyasari. Seorang ibu dengan dua anak. Saya menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap beliau.
Saya jadi teringat. Saya juga pernah mengalami ketidaknyamanan. Berkaitan dengan dokter dan berurusan dengan rumah sakit.
Waktu saya hamil anak pertama, saya rutin periksa kandungan ke salah satu praktek dokter. Saya memang memeriksakan kandungan saya rutin dengan dokter tersebut. Namun dengan demikian saya berkeinginan melahirkan dengan dibantu oleh bidan saja.
Si dokter mengatakan bahwa saya akan melahirkan setelah lebaran. Sekitar awal bulan November 2004. Sampai awal Desember 2004 belum melahirkan juga tuh. Meleset. Akhirnya tanya dengan sepupu suami. Sepupu suami ini dokter spesialis jantung. Menurut dia saya akan melahirkan sekitar 17-19 Desember 2004. Ternyata anak pertama saya lahir tanggal 19 Desember 2004 jam 10.50. Laki-laki. Lutfan Nizami Arivain.
Hamil anak kedua. Saya mendapat informasi. Bahwa dokter tempat saya memeriksakan kandungan waktu hamil anak pertama itu ternyata bukan dokter spesialis kandungan. Hanya dokter umum. Saya pindah ke salah satu rumah sakit umum terdekat. Seingat saya, rumah sakit ini sudah ada sejak ibu saya melahirkan anak ke tiga. Tahun 1978.
Dokter spesialisnya ramah. Ramah dalam artian sebenarnya. Bukan rajin menjamah. Pasiennya banyak. Mengantri untuk masuk kamar periksa bisa satu jam sendiri. Masuk kamar periksa juga tidak langsung ketemu sang dokter. Ketemu perawat dulu untuk di cek tekanan darah dan ditimbang berat badan. Kemudian menunggu lagi selama kurang lebih setengah jam. Ini baru giliran dokter memeriksa detak jantung s jabang bayi. Jadi urusan ini menghabiskan waktu hampir tiga jam. Padahal tatap muka dengan dokter gak sampai 15 menit.
Begitu terus selama hampir sembilan bulan. Diperkirakan si jabang bayi lahir sekitar tanggal 16 April 2006. Tanggal 4 April 2006 pagi, saat berangkat sekolah saya merasakan perut saya mulas. Siang harinya rasa mulas itu muncul lagi. Begitu pula sore hari. Malamnya seperti yang dijadwalkan saya memeriksakan kandungan saya.
Saya sampaikan bahwa hari ini saya sudah tiga kali merasakan mulas. Sang dokter spesialis kandungan tersebut mengatakan kandungan saya baik-baik saja. Saya diberi obat. Setelah saya tebus di apotik. Saya merasa aneh. Kok Dulcolac sih?. Bukannya ini obat pencahar. Tapi yang namanya percaya pada dokter. Obat itu saya minum juga.
Jam 3.00 dini hari keluar bercak merah. Saya berfirasat bahwa sebentar lagi akan melahirkan. Jam 4.00 saya ke bidan. Ternyata benar adanya. Jam 05.10 saya melahirkan anak kedua. Perempuan. Lyra Erisa Bellatrix. Saya kecewa dengan dokter spesialis itu. Bagaimana dia tidak mengetahui perkembangan kehamilan saya.
Saya memilih lahir dibidan pun ada alasan tersendiri. Menurut referensi yang pernah saya baca. Bidan relatif lebih sabar dibanding dokter dalam hal penanganan proses kelahiran normal. Selain itu saya tidak ingin menjadi objek komersil dokter. Yang sedikit-sedikit merekomendasikan operasi caesar.
Bukan tanpa dasar. Operasi caesar merupakan salah satu operasi besar loh. Kerjanya sebentar bila di banding dengan proses melahirkan biasa. Tapi uang yang diterima jauh lebih besar dari pada menunggui proses kelahiran biasa.
Kemudian segala akibat yang ditimbulkan pasca proses operasi menjadi tanggungan pasien. Maksudnya gak ada garansi kalau misalnya terjadi efek yang tidak diinginkan. Salah seorang teman pernah keluar cairan dibekas jahitan setelah operasi. Teman yang lain masih sering mengalami gatal dibekas jahitan. Padahal anaknya udah SD kelas 1.
Para ibu guru disekolah saya yang pernah mengalami persalinan normal dan persalinan melalui operasi caesar merekomendasikan persalinan normal. Alasannya, penderitaan pasca operasi caesar lebih dashyat dibanding penderitaan pasca melahirkan normal. Ada benarnya. Saudara ipar saya baru bisa berjalan setelah tiga hari operasi dilakukan. Itu pun dengan dipapah adik saya.
Disamping itu menurut mereka pada jaman dahulu hampir semua perempuan bisa kok melahirkan normal, gak peduli yang pinggulnya kecil, yang plasenta bayinya pendek, yang jalan keluarnya tertutup plasenta, dan lain-lain.
Trus bagaimana cara agar saya bisa melahirkan secara normal? pertanyaan saya. “Banyak jalan kaki ketika usia kandunganmu sudah mulai tua” Jawab para ibu guru tersebut.
Pernah juga saya mengalami keluhan nyeri dipergelangan kaki dan lutut. Pasca banjir bandang tahun 2007. Saya ke praktek dokter umum. Diberi suatu obat. Harga perlembarnya Rp 30 000,00 sampai lembar kedua masih tidak reda juga. Saya simpulkan jika obat habis maka rasa nyeri itu datang lagi.
Telepon lagi sepupu suami. Si dokter spesialis jantung ini menanyakan obat yang diberikan. Ternyata itu hanya obat pereda rasa sakit. Pantas, jika obat habis maka rasa nyeri itu datang lagi. Saya diberi obat sejenis yang berfungsi sama. Obat generik. Hanya Rp 2 500,00 per lembar.
Hah…. bedanya jauh banget. Rp 30 000,00 dengan Rp 2 500,00. Fungsinya sama. Ketika saya tanyakan penyebab penyakit saya ini. Dia mengatakan bahwa saya kurang olah raga. Terutama olah raga jalan kaki. Sejak itu saya rajin jalan kaki. Alhamdulillah. Tidak lagi mengalami keluhan itu.
Saya merasa pasien berada dalam posisi yang sangat lemah bila berurusan dengan dokter maupun dengan rumah sakit.
Beruntung terdapat tiga orang dokter di keluarga besar suami. Tiga orang ini satu generasi dengan suami. Hanya satu yang ada hubungan darah dengan suami. Yang dua lagi karena hubungan perkawinan. Mereka masing-masing bersuamikan sepupu suami saya.
Sepertinya generasi berikutnya harus ada dokter lagi deh. Dokter yang benar-benar dokter. Yang kompeten dibidangnya.
Recent Comments