Posted by: rleni on: June 4, 2009
Semua pegawai Pemda DKI Jakarta terikat lima hari kerja. Sesuai peraturan Pemda bahwa hari kerja dimulai pada hari Senin sampai jum’at. Khusus untuk guru jumlah jam kerja dalam seminggu 37,5 jam. Dimulai dari jam 6.30 sampai dengan selesai. Sampai dengan selesai ini berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lain. Bagi Sekolah Menengah Umum (SMA) juga berbeda-beda. Disekolah saya jam kerja berakhir sampai dengan jam 15.00.
Berdasarkan peraturan Pemda itu berarti hari sabtu bukan merupakan hari kerja. Namun kenyataannya, seringkali saya dan mungkin juga guru-guru sekolah lain, terkondisikan bekerja di hari Sabtu. Yang paling menyedihkan adalah bahwa Pemda tidak menganggap hari tersebut sebagai lembur.
Sekolah pun terkadang menutup mata. Dalam artian tidak ada kompensasi sebagai hari lembur buat kami para guru yang bersedia meninggalkan keluarga pada hari sabtu untuk memenuhi tugas dari sekolah. Kalaupun diberikan kompensasi, tidak senilai dengan waktu yang terampas karena meninggalkan keluarga.
Tahun ajaran lalu malah sekolah kami masih ada jam belajar pada hari sabtu. Dan saya termasuk yang apes karena ada jam ngajar di hari tersebut. Memang ada hari MGMP. Ketika saya tidak masuk di hari MGMP, penilaian kinerja (Apik) menurun. Saya komplain. Saya menanyakan status hari sabtu kepada kepala tata usaha. Hasilnya pada bulan-bulan berikutnya penilaian kinerja saya lebih baik.
Secara pribadi saya pun tidak bersedia bekerja pada hari sabtu. Gak enak dengan suami saya. Saya ini kan diijinkan bekerja hanya untuk aktualisasi diri. Dan saya bukan tulang punggung keluarga. Kok sekarang sepertinya saya yang lebih sibuk dari suami. Sampai-sampai hari sabtu masih kerja juga. Suami aja gak pernah tuh hari sabtu masuk kerja. Apalagi kalau dibanding-bandingkan antara gaji saya dan gaji suami. Jadi tambah malu nih.
Lama-kelamaan saya jadi berpikir, kok saya jadi melebihi pekerja kantoran. Padahal dulu ketika memutuskan jadi guru salah satu pertimbangannya adalah jam kerja yang lebih sedikit dan fleksibel jika dibandingkan dengan bekerja di kantor.
Posted by: rleni on: May 12, 2009
Anak saya yang pertama. Lutfan. Senang sekali dengan film Thomas and Friends. Sebuah film tentang pulau Sodor dengan alat transportasi mayoritas dipulau tersebut adalah kereta api. Saya sendiri kagum dengan orang-orang yang bekerja membuat film tersebut. Sebuah film yang pasti gak mudah bikinnya dan butuh investasi besar.
Karena itulah saya bermaksud mengajak kedua anak saya naik kereta api. Kalau hanya sekedar jalan tapi gak ada tujuan, suami saya enggan. Ditambah ada kasus penculikan anak seorang pedagang kaki lima di salah satu stasiun kereta api Jabotabek. Hati saya jadi ciut juga.
Hari Sabtu lalu, suami saya mengajak ke rumah orang tuanya. Saya usul naik kereta api. Suami saya cari informasi tentang stasiun terdekat dari rumah kami. Cari tahu jadwal keberangkatan kereta api. Kereta api ekspress tepatnya. Pokoknya yang ber-AC. Sebab kalau gak, mana tahan dengan asap rokok.
Jam 9.31 kereta api Pakuan jurusan Bogor-Jakarta lewat di stasiun Bojong. Saat itu saya sedang beli tiket. Harga tiket Rp 11 000,00 untuk satu kali keberangkatan per orang. Akhirnya kami buru-buru naik. Karena kereta cuma berhenti sebentar.
Berbeda dengan kereta api kelas ekonomi jurusa Bogor-Jakarta. Ini kereta cukup bersih dan bagus. Lama perjalanan satu jam. Kemudian dilanjutkan naik kereta api ke Bekasi. Kereta api ekonomi AC.Harga karcis Rp 5 000,00 untuk satu kali keberangkatan per orang. Jakarta – Bekasi ditempuh dalam waktu lebih kurang 30 menit.
Lutfan benar-benar senang dan sangat menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api. Setiap kereta kami berpaspasan dengan kereta lain, dia heboh dan berseru: “Kereta. Kereta.” Anak kedua saya. Lyra. Awalnya agak takut. Tapi gak lama kemudian sudah bisa menikmati perjalanan.
Perjalanan pulang masih menggunakan kereta api. Kemdian dilanjutkan dengan makan malam di restoran Mie Radja. Hari itu beaya rekreasi keluarga kami Rp 120 000,00. Relatif murah untuk menyenangkan hati anak-anak saya.
Posted by: rleni on: May 12, 2009
Sejak menikah di bulan Agustus 2003, saya dan suami tinggal dirumah orang tua saya. Bulan Juni 2004 suami menghadiri pameran perumahan. Koleksi brosur-brosurnya. Pilihan ada di Tangerang, Bekasi, Citayam, Depok, dan Cimanggis. Hasil diskusi dipilihlah sebuah perumahan di kawasan Cimanggis. Perum Persada Depok.
Perum Persada Depok. Dipilih dengan beberapa keunggulan. Dikelilingi 3 lapangan golf. Emeralda, Bukit Golf dan Jagorawi Golf. Kompleknya tidak terlalu besar. Berisi 400 unit rumah. Terdiri dari tipe 36, 45, dan 60. Lahan perkavling relatif luas jika dibanding dengan lahan untuk rumah tipe sejenis di tempat lain. Sehingga rumah-rumahnya tidak padat. Hanya ada satu pintu gerbang keluar masuk komplek.
Untuk menuju lokasi perumahan dengan angkutan umum, ke terminal Cibinong dahulu kemudian naik angkot nomor 68. Berjarak kurang lebih 4 km dari pintu tol Cimanggis. Sehingga jika menggunakan mobil pribadi. Masuk tol Jagorawi kemudian keluar di pintu Cimanggis. Bisa juga lewat jalan raya Bogor kemudian di km 41 belok ke jalan Cilangkap atau lewat samping Carrefour Cibinong di km 44.
Pertama survei, hanya suami yang datang. Tinggal rumah yang di hook. Harganya diluar budget. Minggu berikutnya ditelepon depeloper. Ada yang batal booking. Akhirnya saya booking tipe 45 standar dengan luas lahan 138 m2. Sebenarnya diluar budget juga. Budgetnya tipe 36. Tapi harga rumah tipe 45 ini lebih murah dari pada rumah-rumah bertipe sama di daerah lain. Rumah yang saya dapat ini menghadap tanah lapang seluas 6 000 m2. Jadi pemandangannya benar-benar luas.
Disepakati akad kredit bulan Desember 2004. Saya baru tiga hari melahirkan anak pertama. Konon kabarnya selama 40 hari gak boleh keluar rumah dulu. Dengan sedikit negosiasi alot dengan ibu, saya ke kantor pemasaran. Ditemani suami dan mertua laki-laki. Saya harus datang karena rumah itu atas nama saya. Tanda tangan akad kredit.
Walau dibeli akhir tahun 2004, saya dan keluarga menempatinya akhir tahun 2007. Dengan sedikit renovasi. Tambah satu kamar tidur. Dapur dipindah ke halaman belakang.
Ditaman depan ditanam rerumputan, pohon jambu air, delima, mahkota dewa, anggur, sirih, dan melati. Ruang utama lebih berfungsi sebagai ruang kerja, perpustakaan dan ruang bermain anak-anak saya. Diruang ini tidak ada sofa. Diruang utama ini terdapat meja kerja suami dan dua lemari buku.
Tempat favourit keluarga kami adalah ruang nonton tivi. Karena kami sekeluarga sering berada disini. Ruangan ini sebenarnya menyatu dengan ruang utama. Ada sofa bed. Sofa ini sering jadi ajang kumpul-kumpul keluarga saya. Selain itu, sering jadi ajang lompat anak-anak saya.
Dari tiga kamar tidur yang ada. Di Kamar tidur utama ada meja kerja, satu lemari pakaian, satu lemari dan satu rak berisi barang-barang suami. Kamar tidur utama lebih berfungsi sebagai ruang sholat dan ruang ganti baju. Kadang menjadi ruang kerja saya. Kamar tidur kedua terletak dibelakang. Dikamar tidur kedua ini kami sekeluarga tidur. Kamar tidur ke tiga lebih berfungsi sebagai gudang.
Ruang makan ada dihalaman belakang menyatu dengan dapur, tempat cuci baju dan taman. Ditaman belakang ini ditanami rumput, pohon jambu air, alpukat, mahkota dewa, pandan, dan rambutan. Tempat cuci baju kadang jadi kolam renang anak-anak saya.
Dari semua orang yang pernah berkunjung, selalu memberikan kesan positif tantang rumah dan lokasinya Mudah dijangkau. Baik dengan mobil pribadi maupun dengan angkutan umum. Berudara sejuk. Apalagi dikelilingi tiga lapangan golf. Suhu dalam rumah pada siang hari rata-rata 29-30 derajat Celicius. Pada malam hari rata-rata berkisar antara 26-28 derjat Celcius.
Lingkungan relatif aman. Keluarga-keluarga yang tinggal disini pada umumnya adalah keluarga muda yang berpendidikan baik. Baru-baru ini disalahsatu lahan fasilitas umum dibangun pukesmas dan sudah beroperasi.
Benar-benar Home Sweet Home bagi saya dan keluarga.
Posted by: rleni on: April 25, 2009
Jangankan bagi saya yang kebetulan hanya setahun saja menjadi guru honor. Bagi guru-guru yang telah mengawali karir sebagai guru honor sejak tahun 1990an maka tiga huruf di atas menjadi hal yang sangat-sangat penting.
Sejak diangkat sebagai guru kontrak tahun 2003 dan kemudian menjadi guru ptt mulai tahun 2004. Selalu diminta bersabar. Sedang proses CPNS. Selalu begitu. Bahkan sampai saat tulisan ini diturunkan.
Untuk itu, ketika ada informasi bahwa kami bisa melihat xxx kami di kantor yyy yang terletak di kawasan ciracas. Maka kelompok guru ptt disekolah kami langsung menindaklanjuti informasi tersebut. Mencari tahu tentang kebenaran berita tersebut. Kemudian mencari hari yang cocok untuk kesana.
Semua orang ingin mengetahui berapakah xxx-nya. Bahkan ada yang tidak bisa tidur karena penasaran. Disekolah saya ada 13 orang guru ptt. Disepakati hari jumat minggu lalu kami akan ke sana. Seperti biasa, saya bagian ke-sekretariatan. Ada teman yang bersedia menjadi bendahara. Karena gak mungkin kan hanya say “thank you” disana. Salah seorang teman lain secara suka suka rela meminjamkan mobilnya. Tapi gak ada supir. Cari-cari supir dulu. Sorang teman guru honor bersedia membantu kami.
Ba’da sholat jumat disepakati meluncur ke kantor yyy. Sang supir gak muncul-muncul. Ditelepon gak nyambung-nyambung. Saya dan seorang teman menyambangi kos-kosannya. Eh ternyata dia pergi nganterin siswa. Duh… kebayang deh teman-teman ptt pada ngedumel.
Setelah menunggu selama sekitar satu jam. Suami teman yang meminjamkan mobil itulah yang jadi supirnya. Benar-benar berpetualang. Karena gak tau alamat pasti kantor yyy tersebut. Sempat nyasar masuk tol lingkar luar Jakarta. Akhirnya tiba juga di kantor tersebut.
Alhamdulillah. Saya dan teman-teman ada xxx-nya. Yang berwenang mengeluarkan SK adalah kantor zzz.
Posted by: rleni on: April 13, 2009
Pertama jadi pemilih di pemilu 1997. Golput. Selain masih kuliah di Malang, saya gak melihat peserta pemilu yang ada akan membawa Indonesia jadi lebih baik. Abis tiga dalam satu seh. Maksudnya, mau pilih yang manapun diantara tiga yang tersedia, tetap aja di setir sama satu orang.
Pemilu tahun 1999. Golput lagi. Masih Bingung milih. Banyak partai Baru. Belum tau sepak terjang partai-partai tersebut. Setelah 5 tahun berlalu. Pemilu tahun 2004, saya punya pilihan. Partai Kesukaan Saya.
Makanya pemilu tahun 2009 ini saya berharap masuk DPT. Masih tetap setia dengan Partai kesukaan Saya. Walau iklan terakhirnya “Emang mejikuhibiniu bisa Partai Kesukaan Saya?” merupakan iklan yang payah. Setidaknya menurut sebagian orang.
Pada hari Rabu pagi tanggal 8 April 2009 saya baru mendapat kepastian mencontreng di wilayah mana. Suami saya memberitahukan bahwa sudah ada undangan mencontreng buat hari kamis tanggal 9 April 2009. Di tempat tinggal saya yang baru. Dapil Depok. Emang bulan lalu sempat ada pendataan dilingkungan saya. Saya pikir bukan buat pendataan DPT.
Padahal saya pikir bakal nyontreng di DKI. Untuk dapil DKI, sudah ada gambaran caleg yang bakal dicontreng. Caleg dari Partai Kesukaan Saya. Baik caleg DPR dan DPRD. Salah satu pasangan calon gubernur dan wagub DKI periode pilkada yang lalu.
Kalau di tempat tinggal saya yang sekarang ini. Belum ada gambaran mau nyontreng caleg yang mana. Walaupun saya sering mendapati wajah-wajah caleg di sepanjang ruang terbuka di daerah saya tersebut. Saya masih tidak tahu mau contreng yang mana. Habis yang terpampangkan hanya wajah mereka dengan pose terbaik. Selebihnya saya gak tau apa-apa tentang mereka.
Saya tidak sedang memilih Bapak dan Ibu Caleg untuk menjadi coverboy atau covergirl
Waktu hari H tiba. Saya dan suami (juga anak-anak saya) ke TPS. Kertasnya lebar banget. Suami saya lama banget. Dia mah sengaja baca-baca itu kertas suara. Kapan lagi katanya.
Saya akhirnya mencontreng partai. Sekali lagi Partai Kesukaan Saya. Saya cari Partai Kesukaan Saya mana ya? By the way, spidolnya kok sama dengan spidol kalau saya mengoreksi hasil ulangan murid-murid saya
Posted by: rleni on: April 7, 2009
Saya tinggal disebuah komplek perumahan yang jaraknya lebih kurang 4 km dengan waktu tempuh 5 menit dari pintu keluar tol Cimanggis. Tol Jagorawi.
Sebuah komplek yang alhamdulillah nyaman. Pintu gerbang komplek hanya satu. Hanya berisi kurang lebih 400 unit rumah. Mulai tipe 36 sampai dengan tipe 60. Tanah yang relatif luas. Sehingga rumah-rumahnya gak padat.
Rumah saya tipe 45 dengan luas tanah 138 m2. Didepan rumah terbentang tanah lapang milik pemda Depok yang luasnya 6000 m2. Semua orang yang pernah berkunjung berkomentar posistif tentang my home sweet home
Oleh suami saya, dapur dipindah keluar rumah utama, menyatu dengan halaman belakang. Biar kalau mau masak-masak di malam hari gak bikin rumah jadi pengap. Gitu alasannya.
Setahun masih asik. Tapi beberapa bulan lalu, saya mulai tertanggu. Ada tikus yang sering berkunjung. Suka bab semaunya. Paling parah itu mahluk bau pipisnya…. Mengganggu suasana damai dan indahnya halaman belakang rumah saya. Udah dikasih perangkap. Dapet seh. Teman-temannya tetap aja datang.
Tapi sekarang udah gak ada kunjungan tikus lagi. Kok bisa gitu? Sejak di kasih kapur barus di beberapa tempat. Di bawah mesin cuci. Di bawah meja kompor. Di bawah lemari piring. Itu kapur barus yang ukurannya sebesar bola pingpong. Biasanya untuk toilet.
Posted by: rleni on: April 1, 2009
Pemilihan legislatif tahun 2009 sudah tinggal menghitung hari. Padahal berdasarkan berita dari sejumlah koran, ternyata masih banyak pemilih di Indonesia ini belum cukup familiar dengan kata “contreng” .
Pada pemilihan legislatif tahun 2004. Pemilih diminta mencoblos calon legislatif yang dipilihnya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional Edisi Ketiga. Sebuah kamus terbitan Balai Pustaka. Coblos atau dalam bentuk kata kerja aktifnya adalah mencoblos. Artinya menusuk hingga tembus.
Menusuk hingga tembus dengan menggunakan alat yang mirip paku. Karenanya maka pada kertas yang dicoblos tersebut akan terdapat sebuah lubang. Berbentuk lingkaran tepatnya. Kalau dicocokkan dengan huruf Alphabet maka pada bentuk yang terjadi seperti huruf O.
Bentuk lingkaran atau huruf O yang terjadi ini bisa ditentukan luasnya. Atau bisa ditentukan diameternya. Setiap pencoblos akan membuat coblosan yang ukurannya relatif sama. Disebabkan karena setiap orang menggunakan alat coblos yang sama.
Sekarang dipemilihan legislatif tahun 2009. Pemilih diminta mencontreng calon legislatif yang dipilihnya. Kata “contreng” tidak saya temukan dalam kamus besar bahasa Indonesia tersebut.
Saya akan coba mendefinisikan kata contreng berdasarkan bentuk yang terjadi. Contreng atau dalam bentuk kata kerja aktifnya adalah mencontreng. Mencontreng saya definisikan sebagai memberi tanda yang bentuknya mendekati huruf V.
Meskipun sudah dengan alat tulis yang ditentukan. Setiap orang mungkin saja punya hasil bentuk contreng relatif yang berbeda. Belum lagi kalau kualitas tintanya gak bagus. Atau ketika tinta masih basah tetapi sipencontreng sudah melipat kertas. Bisa-bisa tanda contreng tercetak juga ditempat yang tidak diinginkan.
Seharusnya si penggagas ide mencontreng itu belajar geometri dulu. Belajar geometri dengan saya juga boleh
Tentang Lingkaran dan Kurva.
Namun demikian saya sangat berharap Pemilihan Umum Tahun 2009 ini berlangsung damai. Baik sebelum, saat, atau sesudahnya. Demi Indonesia yang lebih baik. Aaamiiin.
Posted by: rleni on: March 30, 2009
Sebagai seorang guru mata pelajaran. Mungkin pernah mau marah ketika ada seorang murid. Tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Baik secara lisan maupun tertulis. Tapi dari pada marah-marah. Mending menyelidiki kenapa ini anak gak bisa ya.
Hampir setiap orang pernah menjadi siswa. Saya meyakini bahwa tidak ada siswa yang ingin tidak menguasai pelajaran. Semua siswa pasti ingin menguasai setiap mata pelajaran. Hanya saja terdapat satu dan lain hal yang menjadi kendala.
Menurut saya penguasaan materi mata pelajaran matematika SMA sorang siswa dipengaruhi oleh penguasaan materi tersebut pada jenjang-jenjang sebelumnya. Jenjang SMP dan SD.
Namun demikian tidak ada salahnya jika menelusuri buku catatannya. Ternyata kebanyakan mereka itu jarang mencatat materi pelajaran. Yang penguasaan terhadap matematikanya di bawah harapan.
Jadi selama ini kalau jam pelajaran Matematika ngapain aja seh? Misal tidak pernah mencatat materi pelajaran atau catatan tidak lengkap, tapi kalau ditanya bisa menjawab dengan benar. Gak ada masalah.
Sebagai guru yang sudah relatif lama mengajar. Mungkin saja suatu ketika kita ditanya tentang apa saja yang telah kita lakukan. Kemudian diminta menceritakan ulang materi-materi yang pernah diajarkan kepada siswa-siswanya. Saya percaya bahwa hampir semua guru bisa menjawab dengan baik. Tapi guru juga manusia. Punya sifat lupa.
Saya terinspirasi oleh salah satu kepala sekolah tempat saya bekerja. Beliau penulis buku pelajaran Biologi SMA. Salah satu buku pelajaran terlaris. Sayapun bertanya kepada beliau. Asal mula beliau menulis buku. Saya pikir, sebagai guru mata pelajaran. Ada baiknya kita menyusun sendiri materi pelajaran yang kita ajarkan.
Beranjak dari sana, Tahun 2004 saya mulai menyusun dan mengelompokkan soal-soal matematika SMA berdasarkan materi kelas X, XI, dan XII. akhir tahun 2005 saya sudah memiliki bank soal sendiri.
Akhir Februari 2006. Saya membaca iklan diharian Kompas bahwa salah satu penerbit membutuhkan naskah pelajaran. Naskah pelajaran SD, SMP, SMA/MA, dan SMK. Salah satu penerbit besar di Jakarta. Yang menguasai paling tidak 60% pangsa pasar buku pelajaran sekolah di Indonesia.
Saya berminat. Tapi, saya kan baru punya soal-soalnya doang. Atas saran suami, saya menulis satu bab materi matematika sebagai contoh. Dua minggu. Saya menyelesaikan materi bab statistik dan statistika. Kemudian satu-satunya modal dasar tersebut saya kirim ke penerbit.
Akhir Juni 2006 saya dipanggil oleh pihak penerbit. Diajak ngobrol. Lebih tepatnya diwawancara. Saya diminta mengirimkan materi pelajaran Matematika minimal satu semester.
Diliburan hari raya Idul Fitri saya dipanggil lagi oleh pihak penerbit. Ditanya sudah sejauh mana naskah pelajaran yang saya tulis tersebut rampung. Saya dengan PD bilang hanya kelas XII yang belum (padahal hanya soal-soal kelas X dan kelas XI saja yang rampung). Berapa lama kira-kira saya sanggup menyelesaikan seluruh materi matematika SMA/MA. Saya tidak bisa pastikan. Tapi akan saya usahakan. Karena itu lah saya membeli Laptop Toshiba Portege 12 inchi. Untuk menunjang kegiatan saya ini.
Kemudian karena ada BSE (Buku Sekolah Elektronik) penerbit menawarkan buku soal. Sebagai penulis pemula, saya terima saja tantangan tersebut. Padahal saya sudah terlanjur menyerahkan file buku Matematika SMA/MA Kelas X. Akhirnya saya daftarkan hak cipta semua buku saya tersebut didepartemen Hukum dan HAM. Hak cipta atas nama saya tentunya.
Saya menyusun tiga jilid buku soal Matematika SMA/MA. insyaAllah. Buku kelas X lagi naik cetak. Buku kelas XI IPA lagi proses setting terakhir (sebelum naik cetak). Buku kelas XII IPA lagi masuk proses Editing (sebelum masuk proses setting). Tahun ajaran baru 2009/2010 sudah bisa launching. InsyaAllah. Dengan demikian saya mantap melanjutkan pendidikan diprogram pasca sarjana.
Berikutnya yang saya bidik adalah matematika di jenjang SD. InsyaAllah. Menurut saya, kecintaan siswa terhadap Matematika seharusnya dimulai disini. Dengan menyajikan kegiatan belajar mengajar matematika sedekat mingkin dengan kehidupan sehari-hari. Namanya Pendidikan Matematika Realistik. Nah program beasiswa yang saya apply itu berhubungan dengan ini.
Posted by: rleni on: March 27, 2009
Sejak melewati sesi wawancara beasiswa di UNJ tanggal 19 Februari 2009 lalu. Saya selalu online tiap hari. Menunggu dengan setia sebuah email penting. Tentang hasil wawancara tersebut. Disekolah tentunya. Habis kalau dirumah suka berebutan laptop sama anak-anak. H2C. Harap-harap cemas kata murid-murid saya. Diterima gak ya?
Oya… beasiswa yang saya apply itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama di Surabaya (Unesa) atau Palembang (Unsri). From May to December 2009. Lectures full in english. Monday to Friday. After finishing this section. Ujian lagi. Kalau lulus akan mengikuti bagian kedua. Dapat beasiswa di International Master Program on Mathematics Education, at Utrecht University, the Netherlands.
Bagian pertama itu cuman ada dua pilihan. Bayar sendiri atau mendapatkan BPPS. BPPS diberikan hanya untuk Dosen atau Calon Tenaga Akademik Baru. Duh… saya ini kan hanya guru biasa. Tapi gak ada salahnya mencoba mencari dokumentasi pendukung agar saya mendapatkan BPPS. Untuk itulah saya pergi ke Malang tanggal 22 Februari 2009.
Terima kasih kepada Ketua Jurusan Matematika FMIPA UM. Beliau memberikan lebih dari yang saya harapkan. Dengan dokumen pedukung tersebut saya lebih optimis lagi dapat BPPS. InsyaAllah.
Berikutnya selama Januari 2010 sampai dengan Desember 2010 mengikuti perkuliahan di Belanda. Padahal bulan Januari itu sedingin-dinginnya musim dingin di Eropa. Beberapa teman menyarankan agar saya mempersiapkan stamina. Thanks to my friends. Sepertinya teman-teman lebih optimis dari saya deh. Hehehe…
Kata suami saya, kalau gak dapat BPPS alias harus bayar sendiri. Terima aja. Thanks to my husband. Iya. Terima aja tantangan tersebut. Demi sebuah impian. Menjadikan matematika sebagai salah satu pelajaran yang menyenangkan bagi siswa.
Posted by: rleni on: March 25, 2009
Sejak tinggal diluar kota Jakarta. Padahal masih mengajar di salah satu SMA Negeri di Jakarta Utara. Setiap hari kerja Senin sampai Jumat saya menjadi pengguna setia jalan tol Jagorawi.
Jalan tol yang konon kabarnya termulus ini. Kalau lagi padat. Yaitu saat mulai jam berangkat kerja dan saat pulang kerja. Banyak pelanggaran. Saya jadi ngeri sendiri.
Jarak antar kendaraan sudah gak aman lagi. Jarak aman antar kendaraan yaitu 100 meter. Saking padatnya, bahu jalan juga dipakai. Kendaraan yang seharusnya selalu dilajur paling kiri, malah dilajur paling kanan. Ngebut lagi. Kadang ada kendaraan yang mendahului dari sebelah kiri. Belum lagi kalau lihat papan petunjuk tingkat kecelakaan yang terjadi dan korban jiwa yang diakibatkannya. Duhh… tambah ciut.
Tapi gimana lagi. Tiap hari tetap aja lewat situ. Bismillah aja. Malah kalau ngantuk saya tidur. Kalau gak bisa tidur, saya lihat-lihat pemandangan kiri dan kanan jalan tol. Cukup menghibur juga. Cuman sayangnya dibanyak titik terdapat sampah rumah tangga yang dibuang oleh penghuni sekitar jalan tol.
Walau demikian disaat-saat libur. Jalan tol ini lenggang. Jarak tempuh dari mulai masuk pintu tol cimanggis ke tanjung priok hanya makan waktu 30 menit. Cimanggis – Tanjung Priok lebih kurang berjarak 40 km. Padahal kalau pas jam berangkat kantor, bisa-bisa makan waktu satu jam.
Baru-baru ini pada papan petunjuk keluar jalan tol banyak tulisan Cikeas. Di pintu keluar Cibubur ada tulisan Cikeas. Di pintu keluarl Cimanggis ada lagi tulisan Cikeas. Dipintu keluar Gunung putri juga sama. Eh, di pintu keluar Citereup ada juga. Wah… apa karena rumah pak SBY di Cikeas ya.
Recent Comments