Sehat Itu Mahal

Sebelum ini kalimat itu hanya sebagai penanda pertigaan untuk belok ke arah rumah saya setelah dari Sunter Mal (kalau mau lewat jalan tikus).
Yap, di pertigaan jalan tersebut ada baliho tentang kesehatan. Yang terekam di otak saya adalah tulisan “Sehat Itu Mahal”.

Memang benar seh. Coba kalau kita sakit. Gak usah yang kelas berat deh, sakit batuk pilek aja. Biaya dokter plus obatnya lumayan mahal. Dulu saya hanya memikirkan kerugian materi (berupa uang). Tapi apa cuman itu aja kerugiannya? Ternyata ada banyak loh.

Pasca banjir awal bulan Februari 2007 lalu saya mendapat bonus penderitaan: sakit diare dan sakit pada persendian kaki. Ya! bonus penderitaan, karena penderitaan utamanya adalah hampir seminggu rumah saya kebanjiran sedalam 50 cm. Biar “hanya” bonus tapi sempat bikin saya nyaris KO gak bisa jalan. Saya berobat ke dokter langganan saya. Seperti biasa, dokter tersebut memberi obat. Saya dengan kesungguhan hati minum obat sesuai aturan. Biar lekas sembuh.

Diarenya seh mampet, karena selain obat dokter saya juga minum teh manis-asin. Tapi sakit kakinya itu loh… Satu lembar obat ( isi 10 tablet) habis. Setelah obat habis, sakitnya kumat lagi. Saya beli lagi obat tersebut. Lembar kedua habis. Kaki saya tetap sakit. Jadi kesimpulan saya kalau gak minum obat kaki saya sakit. Nah waktu mau beli untuk ketiga kalinya ternyata obat tersebut habis. Saya cari-cari ke semua toko obat. Sambil mencari, saya sempat tanya itu obat untuk apa? Oooh ternyata obat pereda rasa sakit doang. Pantesan kalau gak diminum kaki saya kumat lagi.

Karena obat tersebut gak ada maka mulai lagi penderitaan saya. Libur hari raya Nyepi benar-benar sepi. Saya gak bisa kemana-mana. Akhirnya saya merenenung dalam sepi🙂. Selama saya sakit, saya telah kehilangan waktu produktif saya. Saya keluar uang untuk berobat. Saya menghabiskan waktu selama lebih kurang dua jam untuk mengantri di dokter. Dan yang paling berharga adalah saya kehilangan kebahagiaan yang saya rasakan ketika sehat. Itu tidak dapat tergantikan oleh apapun. Saat itu saya merasakan bahwa nikmat sehat sedang dicabut dari saya. Sehat itu (memang benar-benar) mahal.

Mungkin karena gak tega lihat saya KO nyaris gak bisa jalan. Suami saya inisiatif telpon ke sepupunya yang dokter. Kami bertiga pernah sekelas waktu SMA dulu. Dia tanya obat yang dikasih dokter sebelumnya. Dugaannya, saya terkena radang persendian kaki. Trus saya dapat 2 macam obat baru. Seperti biasa kalau ke dokter, saya selalu minta saran agar tidak terserang lagi penyakit yang sama. Tipsnya adalah saya harus rajin olah raga jalan kaki. Ooh… memang sejak hanya mengajar di satu tempat, saya jarang jalan kaki. Pergi diantar suami dan kalau pulang naik angkot.

Sekarang saya mencanangkan gerakan jalan kaki sepulang mengajar. Habis kapan lagi? Kalau olah raga jalan kakinya tunggu hari sabtu, minggu atau libur malah lebih banyak alasan gak bisanya dari pada bisanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s