Uji Nyali Pejalan Kaki

Saya perhatikan kondisi lalu lintas di jalanan kota Jakarta makin hari makin tidak bersahabat dengan pejalan kaki.

Saya memang jarang bepergian. Lalu lintas saya sehari-hari paling-paling dari rumah ke sekolah trus pulang. Kalau pergi ke sekolah diantar suami. Kalau pulang naik angkot. Nah kalau nyebrang yang agak repot. Selain harus lincah langkahnya, harus lincah celingak-celinguknya juga. Padahal lokasi sekolah tempat saya ngajar bukan di jalan jalan raya.

Kalau nyebrang diperempatan Permai lebih heboh lagi. Emang ada jembatan penyebrangan seh tapi lokasinya kurang pas. Khusus diperempatan Permai ini saya ingat suasana menyebranginya dari masa ke masa. Ceile…

Perempatan Permai itu ujungnya jalan tol Cawang – Priok. Kalau dari arah Cawang maka disebelah kanannya ada Polres Jakarta Utara dan SMPN 30 Jakarta, sebelah kirinya ada Telkom dan GOR Jakarta Utara. Kalau terus ke utara maka akan sampai di pelabuhan Tanjung Priok.

Waktu saya kecil tahun 80an ya… jaman angkotnya masih seperti angkotnya bapaknya si Doel dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Saya merasa perempatan itu lebar sekali. Saya ingat nyebrang diperempatan permai itu bisa sambil nyantai.

Berikutnya waktu sma. Saya sering nyebrang di perempatan itu. Dulu belum ada angkot yang lewat depan sekolah saya. Kebetulan kalau mau ke sekolah saya mesti lewat situ. Lalu lintas mulai ramai. Jalan tol Cawang – Priok baru selesai. Kalau mau nyebrang yang harus di waspadai cuman kendaraan yang dari arah jalur tol. Mereka sering kali masih dalam kecepatan lumayan tinggi jika dibandingkan dengan kendaraan di jalur bukan tol.

Sekarang nyebrang di perempatan itu makin deg-degan aja. seperti uji nyali. Walaupun ada zebra cross. Diperempatan itu ada 6 arus lalu lintas. Dari kelima arus lalu lintas ini diatur oleh lampu merah. Namun walaupun demikian nyaris tidak ada jeda untuk pejalan kaki karena setiap arus padat. Malah kalau pagi lampu merahnya sering mati. Lalu lintas jadi kacau.

Kemarin saya dan teman bermaksud melegalisir SK PTT kami. Kami menuju Dikmenti yang berlokasi di Jln. Gatot Soebroto. Naik Patas AC dan turun di Polda Metro Jaya. Dari sini menyambung lagi naik Kopaja. Untuk naik Kopaja kamipun harus menyebrang jalan. Kebetulan ada jembatan penyebrangan untuk pejalan kaki.

Jembatan penyebrangan ini bagian dari proyek bus trans Jakarta. Lantainya terbuat dari semacam logam sama seperti lantai bus. Jalannya tidak bertingkat-tingkat. Bagi yang memakai hak tinggi bakal kena kram betis kali yee…

Setelah kami melewati separuh jembatan tersebut tenyata kondisi lantai parah. Mur lantai pada copot sehingga lantai meletek atau meliuk. Tampaklah jalanan di bawah kami. Gak ada besi penyangga lantai. Bener-bener plong. Yang ada kerangka jembatan. Itupun berjarak sekitar 0.5 meter. Kami yang baru kali itu mendapati kondisi jembatan seperti ini jadi deg-degan. Trus terpaksa kami seperti spiderman. Berjalan sambil mepet pagar jembatan. Eh tau-tau dari dari depan kami orang-orang dengan PDnya lewat di lantai yang meliuk tersebut. Wah… hebat sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s