Ayat-Ayat Cinta

Ibu-ibu guru di sekolah saya beberapa waktu lalu beramai-ramai sepulang mengajar menonton Ayat-Ayat Cinta (AAC). Baik yang masih berstatus ibu muda sampai yang sudah sepuh. Kabarnya para ibu tersebut pun menangis berjamaah🙂

Saya penasaran tapi belum berkenan menonton. Selain karena saya bukan penikmat film bioskop, ceritanya pun kabarnya sedih. Saya ini gampang menangis. Jadi saya minta diceritakan saja🙂 Seorang ibu guru yang sudah menonton film AAC sebanyak 3 kali menceritakan versi filmnya pada saya.

Pada suatu siang salah seorang bapak guru memutar film tersebut di laptop sekolah. Wah, melihat salah satu adegan saja saya sudah ingin menangis. Adegan waktu Aisha meminta Fahri agar menikahi Maria. “Mending lw nonton di 21 bareng suami biar lebih seru”, kata Si Bapak yang umurnya gak terpaut jauh dengan saya.

Waktu hari minggu saya dan suami ke Glodok membeli salah satu komponen laptop suami. Sekalian deh cari VCD/DVD AAC. Di Plaza Pinangsia VCD/DVD malah gak ada. Ya mana ada. Biasanya yang dijual kan VCD/DVD impor bajakan dari luar Indonesia. Nunggu VCD/DVD original mah masih lama.

Pulang dari Glodok naik Trans Jakarta. Suami ngajak mampir di TB Gramedia Matraman. Dia bilang sejak direnovasi dia belum pernah datang. Saya sering menemani dia ke toko buku. Dulu saya memang pernah melihat novel AAC tersebut. Tapi saya tidak berniat membacanya. Melihat bukunya yang tebal saja saya dalam hati berkomentar kapan selesainya? Saya ini juga kurang suka baca novel. Tebalnya itu loh bikin saya ilfil (ilang feeling). Duh, saya ini hobinya apa seh?

TB tersebut memang besar. Kabarnya tersebesar se-Asia Tenggara. Lebih mirip Mal. Ramai. Setelah berkeliling-keliling saya melihat tumpukan buku AAC. Kebetulan ada satu yang telah dibuka plastiknya. Rp 45.000,00. Kalau lihat buku novel saya biasanya baca bagian awal dan akhirnya saja. Kali ini saya baca bagian terakhir. Mengharukan sekali. Saya memutuskan membeli.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang membaca novelnya terlebih dahulu baru kemudian menonton filmnya. Saya justru kebalikannya. Menonton filmnya dahulu baru membaca novelnya. Kebanyakan orang yang membaca dahulu novel AAC merasa kecewa setelah menyaksikan ceritanya. Saya penasaran dimana perbedaannya yang membuat kecewa?

Saya curi-curi baca di kelas. Ketahuan murid-murid. Terdengar bunyi suara sms. Spertinya hp salah satu murid-murid deh. “Bu, sita tuh hp-nya. Trus kita jual. Uangnya buat nonton AAC bareng-bareng sekelas.” Celetuk salah satu anak disambut sorakan tanda setuju dari teman-teman yang lain. Kecuali siempunya hp tentu. Kalau dia seh mungkin ketar-ketir takut hpnya di sita. “Iya, nanti kalau berikutnya terbukti hpnya masih aktif, maka akan saya sita dan kita jual kemudian uangnya buat nonton ACC bareng-bareng sekelas.” Balas saya. “Aaassyyiiik. Mau. Mau.”

Dirumah selepas maghrib saya lanjutkan baca itu novel. Biasanya baru beberapa halaman saya sudah ngantuk. Tapi ini bikin penasaran. Saya baca pelan-pelan biar lebih ingat alur ceritanya. Gak terasa sampai jam 2.30 dini hari. Ada bagian-bagian yang menyentuh jiwa sehingga hati saya gerimis (meminjam istilah dalam buku tersebut). Sampai tulisan ini diturunkan kepala saya masih cenut-cenut karena kurang tidur.

Trus mana komentarnya? Eh iya. Saya mengerti jika orang sudah baca novelnya kecewa ketika menyaksikan filmnya. Tanpa mengurangi penghormatan saya terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film tersebut.

Di dalam film banyak adegan yang diringkas. Lakon atau dialog yang diperankan tidak sesuai dengan tokoh pada novel. Mungkin ini untuk menghemat biaya produksi.

Banyak pemain yang diringkas.

Contoh, di film Keluarga Maria hanya terdiri dari dia dan ibunya. Sedangkan di novel terdiri dari dia, ibunya, ayahnya, dan seorang adik laki-laki.

Kalau keluarga Aisha dalam film AAC terdiri dari dia dan pamanya saja. Padahal kalau di novel terdiri dari dia, dua orang paman, dua orang ipar ibunya, dan dua orang anak salah satu pamannya.

Btw, kalau di film si Fahri ini punya adik perempuan.Sedang di novel dia itu anak tunggal loh.

Begiti juga dengan karakterisrik pemainnya.

Si Fahri itu kalau versi novelnya adalah kepala rumah tangga di flatnya (walau pun belum punya istri). Mungkin karena dia itu paling tua sendiri. Udah 7 tahun tinggal di Mesir. Trus gak ada tuh minta-minta saran dari si Saiful (versi filmnya). Kalau pun lagi bimbang Fahri itu sholat Istiharah. Waktu mau nikah pun gak ada teman-temen yang tau. Dan gak girang-girang amat deh. Kok di film seperti itu ya?

Kesan saya di film Aisha itu tegas dan pemberani sampai sanggup berdebat dalam Metro. Padahal kesan saya dinovel Aisha itu orang yang lembut dan pemalu dan tidak berdebat di dalam Metro.

Yang saya kritik dari sekian adegan dalam film AAC adalah saat Fahri berduaan dengan Maria dijembatan. Sambil mata menatap hening air mereka berbincang-bincang tentang jodoh. Maaf ya penulis skenario. Mana mungkin seh seorang Fahri yang faham betul Al-Qur’an dan Hadits berdua-duaan dengan yang bukan muhrimnya. Kalau kata Ivan Gunawan dan Ruben dalam acara Super Mama show, “Jangan gila dhonnnk…!”

Di novel, penyebab Maria sekarat adalah karena kasihnya yang tak sampai pada Fahri. Sedangkan di film karena ditabrak mobil. Kalau di film setelah memberikan kesaksiaan dipengadilan, Fahri, Aisha, dan Maria sempat tinggal bareng. Di novel Maria itu tidak sempat hidup sehat (setelah memberikan kesaksian) langsung sekarat lagi.Mungkin adegan Fahri, Aisha, dan Maria yang hidup dalam satu atap itu banyak tidak direlakan oleh ibu-ibu ya? Terutama yang belum siap merelakan suaminya untuk berpoligami pasti tambah ciut hatinya (khawatir diserumahkan dengan madunya). Ya, salah satunya seperti saya ini. Aahh, iman saya masih tipis ya.

Lagian emangnya dalam Islam dibolehkan mengumpulkan para istri dalam satu atap? (Gak boleh deh !) Yang bukan Islam aja pasti berkomentar “Gak manusiawi tuh”. Sekali lagi, kalau kata Ivan Gunawan dan Ruben dalam acara Super Mama Show, “Jangan gila dhoooonk….!”

Yang paling berkesan adalah bagian terakhir dari novel tersebut jika dibandingkan dengan di film.Saya banyak kehilangan moment yang menyentuh jiwa pada saat menonton film tersebut. Jika dibandingkan dengan membaca novelnya.

Jika dibandingkan dengan semua film Indonesia yang pernah diproduksi (sampai masa AAC dirilis) maka AAC adalah masterpiece-nya film Indonesia. Namun jika dibandingkan dengan versi novelnya, maka novel AAC lebih bagus dari filmnya.

Sekali lagi maaf ya penulis skenario. Saya memang belum bisa membuat film dan menulis novel. Baru bisa ngomentarin doang.

4 thoughts on “Ayat-Ayat Cinta

  1. “Jika dibandingkan dengan semua film Indonesia yang pernah diproduksi (sampai masa AAC dirilis) maka AAC adalah masterpiece-nya film Indonesia. Namun jika dibandingkan dengan versi novelnya, maka novel AAC lebih bagus dari filmnya”.

    Wah,padahal ntar sepertinya ada satu lagi bu masterpiece-nya film Indonesia. Film Laskar Pelangi…sepertinya itu bakal menjadi pesaing AAC dalam perfilman Indonesia…

    ~Btw, masih inget dgn saya khan Bu…???… hehehe

  2. yah.. AAC memang spektakuler…

    tapi meski saya sudah kelar baca AAC bareng dengan istri… tapi nggak minat nonton filmnya🙂

    saya lebih asyik mendengar dari kang abik tentang proses pembuatan AAC …

    salam kenal ajah dari malang🙂

    http://hmcahyo.wordpress.com

    kalo mau baca laporan perjalanan kang abik ke malang buka blog saya di tag FLP

    PS: temennya pak wirdan ya (http://idepakwirdan.blogspot.com)

    saya temennya juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s