Kembali (Lagi) Ke Malang

Membaca berita tentang kota Malang di harian Kompas Minggu, 26 Mei 2008, Festifal Malang Kembali. Saya jadi teringat bahwa tanggal 14 – 15 April 2008 kan saya ke Malang.

Bulan April adalah bulan yang cukup menyibukkan kami guru PTT yang melakukan seleksi pemberkasan CPNS. Seperti sedang mengikuti kegiatan Ospek saja. Mulai dari map yang harus berwarna tertentu. Kalau ini masih saya maklumi mengingat banyak pegawai honorer yang juga sedang melakukan pemberkasan, diantaranya petugas tramtib dan petugas pemadam kebakaran. Surat keterangan tidak mengkonsumsi narkoba dari rumah sakit tertentu.

Surat lamaran yang harus ditulis tangan dengan tinta hitam plus tulisan latin. Hari genee… masih tulisan tangan, latin pula. Saya sempat berfikir. Apa yang nyeleksi berkas PTT itu orang-orang dari jaman purba ya? Sehingga gak bisa baca hasil print out ketikan komputer. Atau… Jangan-jangan mereka para ahli pembaca kualitas seseorang hanya dari tulisan tangannya (tapi kenapa harus tulisan tangan latin?).

Plus foto kopi ijazah yang dilegalisir dengan cap basah dengan tanggal kurang lebih tiga bulan terakhir (yang masih gress). Maksud cap basah itu ternyata harus tanda tangan dari pulpen pejabat ybs bukan tanda tangan stempel. Oooh gitu toh.

Karena itulah, seorang teman kuliah dulu yang juga sedang bernasib sama dengan saya mengajak ke Malang. Jadi deh kita berdua ke Malang. Temen saya ini (perempuan) masih pengantin baru. Dari stasiun Senen naik kereta Bangunkarta kelas bisnis dengan tujuan Jombang. Tarifnya hanya setengah tarif kereta Gajayana kelas eksekutif. Dikereta saya mendengarkan cerita teman tsb seputar kehidupan barunya sekarang.

Sampai Jombang jam 5.00 pagi. Kemudian naik bis tujuan Malang dengan biaya Rp 12.000,00. Karena sudah lama tidak ke Malang selama melewati Batu kami kedinginan. Terakhir saya ke Malang tahun 2002, kalau teman saya itu tahun 2004. Tiba di terminal Landungsari kami kelaparan. Makan nasi pecel, tempe goreng, rempeyek, dan minum teh manis hangat. Harga makanan dan minuman tsb Rp 4.000,00. Saking kagetnya saya sampai mengulang lagi apa yang sudah kita makan dan minum, khawatir si punjual salah hitung. Murah bangeetsss.

Tujuan kami menginap di rumah ibu kos saya dulu. Saya lupa naik angkot jurusan apa ya? AL, ADL, GL, atau LDG. Coba naik ADL aja deh. Sepanjang jalan celingak-celinguk sambil mengingat turun dimana ya? Bener-bener lupa.

Sampai kampus jam 10.00 pagi. Wah ramai sekali yang antre legalisir. Saya legalisir bareng ama mereka yang lagi yudisium. Duh, padahal dulu saya yudisium juga sekitar tanggal segitu. Karena target sehari harus kelar, maka saya terpaksa masuk ke ruang petugas dan minta didahulukan. Alhamdulillah dapat prioritas deh.

Dua hari di Malang saya melihat memang Malang banyak berubah. Di jalan Bandung dan Veteran yang dulu sering saya lewati waktu pergi-pulang dari kuliah sudah lebih banyak tempat usaha. Di dekat TMP ada Matos (Malang Town Square). Kami beli roti buat dosen-dosen di hypermart.

Pepohonan depan fakultas MIPA sudah pada tinggi-tinggi. Dulu tahun 1997, saya termasuk orang yang mengikuti kegiatan menanam pohon tersebut. Trus di sekitar fakultas MIPA ada beberapa gedung baru jadi atau yang sedang dibangun.

Sekarang banyak makanan dari kota Bandung. Batagor, siomay, segala macam aci (di molen, dikukus, atau dibakar). Selama di Malang, kami mengunjungi tempat-tempat yang dulu kami suka makan-makan. Makan cwi mie plus es degan dikopma ikip malang. Makan bakso dan es buah di Dua Remaja, dan makan bakso di jalan Lembang. Pokoknya reoni makan deh. Wah gak jauh dari urusan perut ya…

Sebenarnya pengen lama-lama barang seminggu lah, sekalian rekreasi. Sayang lagi buru-buru seh. Pulang ke Jakarta naik kereta Gajayana.

Buat mas Zainuri, sori ya, saya gak sempet nyambangi sampeyan. Ketika temen kuliah saya yang lain tahu bahwa kami ke Malang pada iri. Buat Pak Wirdan di Depok jangan iri juga ya🙂 Kata kajur pendidikan matematika UM pak Imam Supeno, bulan Juli 2008 yad akan ada seminar alumni.

4 thoughts on “Kembali (Lagi) Ke Malang

  1. Kalo ke Malang, mbok yang bilang-bilang….
    Aku hobinya Pecel Kawi, sayang kalo ke Malang gak beli bumbu Pecel Kawi…..

  2. len, saya baca sebagian tulisan kamu, untuk seorang yang baru belajar ente sudah sangat bagus. tapi saya tunggu ya tulisan kamu yang agak jauh dari sentris maksudnya tulisan kamu mengarah kepada diri kamu sendiri, jadi coba kamu tulis di edisi mendatang tulisan yang bersumber dari hasil pengamatan kamu keorang lain beserta buah pikirannya kemudian kamu ramu dengan buah pikiran kamu sendiri karena nantinya tulisan kamu bisa dinikmati orang juga karena yang kamu gali bersumber bukan semata mata dari buah pikiran sendiri tapi juga dari apa yang dirasakan orang. terus amati gejala sosial ya len karena saya liat kamu punya kekuatan disitu. good luck len !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s