Hajatan

Akhir-akhir ini di bulan Agustus banyak yang mengadakan hajatan nikah. Termasuk salah satu keluarga di belakang komplek saya. Dan seperti hajatan nikah pada umumnya, selalu belum terasa lengkap kalau belum ada sound system.

Di Sabtu pagi yang sejuk kemarin. Jam 7.30. Keheningan di rumah saya jadi tercemar oleh hingar-bingar suara sound system. Awalnya saya kira yang empunya persewaan lagi ngecek keoptimalan barang sewaannya. Kabarnya di kampung belakang ada persewaan sound sistem. Ditunggu-tunggu selama satu jam suasana gak damai-damai juga.

Informasi dari tetangga pojok, ternyata di kampung belakang emang lagi ada hajatan nikah. Mulai dari acara temu akrab kedua keluarga, lagu pop jadul yang penyanyinya udah almarhumah, lagu daerah, sampai dengan live music marawis atau nasyid. Semua terdengar jelas las las las… Cuman acara akadnya aja yang saya tidak dengar. Kalau ini kayaknya gak di-on air-kan.

Wah…Ngomong harus lebih besar volmenya, volume suara acara TV diperbesar menjadi 3x dari biasanya. Benar-benar mengganggu kenyamanan. Itu suara sound system melanglang buana sesuka angin membawa sampai jam 11 malam Bo…

Saya menganggap si empunya hajatan tidak punya tenggang rasa terhadap orang lain terutama tetangga kanan-kirinya. Eit… tunggu dulu, kalau saya komplain. Jangan-jangan si empunya hajatan malah balik menuduh saya yang tidak punya tenggang rasa. Lha wong hajatan nikah (insyaAllah) seumur hidup sekali.

Ya… itu lah manusia. Dengan kejadian yang sama, bisa jadi setiap orang memiliki sisi pandang yang berbeda.

One thought on “Hajatan

  1. Saya mbayangkan, betapa pekewuhnya saya, kalo punya hajatan di lokasi perumahan. Dengan tetangga2 yang kritis dan kebutuhan privasi yang tinggi. Laen dengan kalo tinggal di desa, yang notabene punya toleransi yang tinggi. Saking toleransinya, saya pernah tidak ikut kuliah sehari gara – gara tetangga nikahan. Maklum tetangga adalah orang baek yang sering bantu – bantu kami dalam banyak hal….
    Pinginnya si hidup di desa aja, meski sederhana tapi mungkin lebih punya potensi bermasyarakat. Atau mungkin karena saya hanya seorang guru kali ya….
    Maaf koment panjang, trims atas bacaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s