Solusi Macet

Beberapa minggu lalu saya mendapat informasi dari televisi, bahwa Pemprov. DKI Jakarta merencanakan menelurkan kebijakan memajukan jam sekolah demi mengatasi kemacetan lalu lintas di ibukota tercinta ini. Salah satu alasan adalah bahwa guru dan anak sekolah penyumbang sebesar 14% kemacetan di DKI. Sedangkan pegawai atau karyawan adalah penyumbang sebesar 40% kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta.

Minggu berikutnya, lewat acara briefing rutin, kepala sekolah saya memberikan sinyal. Sinyal yang artinya lebih kurang mulai bulan Januari 2009, jam belajar di sekolah saya dimulai pukul 6.30 WIB. Teeeeet. On time. gak Pake karet. Waktu itu pertanyaan saya: “Apakah pulangnya jadi lebih awal?” Menurut beliau “Tentu. Lebih awal setengah jam.”

Setelah selama setahun menjadi anggota himpunan Komuter. Tentu saya memikirkan perjalanan saya pergi dan pulang sekolah. Seandainya saya PNS atau guru honorer, saya yakin, yakin se yakin-yakinnya untuk pindah sekolah. Sekolah yang jauhnya cuman selemparan batu dari rumah saya. Status saya yang guru honor bukan tapi PNS juga belum, membuat saya harus bertahan di sekolah ini.

Masalah pertama, berarti saya harus berangkat lebih awal. Itu bisa di atur. Masalah berikutnya adalah apakah sudah ada bus umum yang mengangkut kami para guru. Para guru pengguna jasa angkutan umum. Bila seandainya kami berangkat lebih awal.

Ingat loh pak wakil gurbenur, Gak semua guru memiliki kendaran pribadi berupa mobil. Kalaupun ada, belum tentu jadi kendaraan untuk bekerja tuh. Mengingat biaya menggunakan mobil pribadi lebih besar dibanding dengan ngeteng. Bisa-bisa gaji sebulan cuma habis buat ongkos. Kecuali jika si guru punya bisnis lain.

Kalau dilihat secara keseluruhan bahwa mobil pribadi yang menyesaki lalu lintas di DKI jauh lebih banyak dibanding kedaraan umum. Nah pengguna mobil pribadi ini yang kudu disentuh hatinya agar mau meninggalkan kenyamanan naik mobil pribadi. Sebagai gantinya, ada bus Transjakarta. Pemprov. DKI terkesan kurang serius menangani armada Transjakarta dan sarana prasarana pendukungnya.

Sebagai orang yang sesekali menggunakan bus Transjakarta. Keluhan saya adalah waktu kedatangan bus yang tidak tentu. Hanya Sang Supir dan Tuhan yang tahu. Hal ini menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di shelter-shelter. Terutama di shelter transit.

Beberapa kali saya hendak naik bus ini di buat menunggu lebih dari 30 menit. Untung, saya gak lagi janji dengan orang lain atau sedang kebirit-birit masuk kerja. Pernah pada suatu sore di bulan puasa. Di shelter Kampung Melayu. Lutut saya nyaris rontok. Mau pingsan. Menunggu lebih dari 30 menit. Ada beberapa unit bus lewat, sayang gak mampir. Lewat wae. Kami para penumpang sampai juengkeelll. Padahal setelah masuk dalam bus, ternyata Kampung Melayu – UKI ditempuh gak lebih dari 5 menit. Itu baru layanan tepat waktu kedatangan.

Kemudian kebersihan shelter juga harus dipelihara. Apalagi untuk lingkungan Jakarta yang penuh debu ini. Di beberapa shelter penuh debu. Kotor. Seperti tak diurus. Pagar pembatas pintu masuk menuju bus yang copot. Lantai ada sampah.

Begitu juga jembatan penyebrangan. Pernah saya dan teman ketakutan. takut jatuh karena lantainya ada beberapa yang copot sehingga terlihat arus lalu lintas di bawahnya. Sampai-sampai saya dan teman saya merambati pagar penyebrangan.

Sepertinya banyak orang memiliki keluhan serupa.

Saya pikir kalau semua itu diperbaiki secara berkesinambungan, maka lambat laun tapi pasti, semua orang suka menggunakan bus Transjakarta. Dan berpaling pada armada miliki pemprov. DKI ini. Baik pengguna mobil pribadi maupun pengguna angkutan umum.

One thought on “Solusi Macet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s