Prita Mulyasari

Akhir-akhir ini tengah ramai dibicarakan kasus yang menimpa  Prita Mulyasari. Seorang ibu dengan dua anak. Saya menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap beliau.

Saya jadi teringat. Saya juga pernah mengalami ketidaknyamanan.  Berkaitan dengan dokter dan berurusan dengan rumah sakit.

Waktu saya hamil anak pertama, saya rutin periksa kandungan ke salah satu praktek dokter. Saya memang memeriksakan kandungan saya rutin dengan dokter tersebut. Namun dengan demikian saya berkeinginan melahirkan dengan dibantu oleh bidan saja.

Si dokter mengatakan bahwa saya akan melahirkan setelah lebaran. Sekitar awal bulan November 2004. Sampai awal Desember 2004 belum melahirkan juga tuh. Meleset. Akhirnya tanya dengan sepupu suami. Sepupu suami ini dokter spesialis jantung. Menurut dia saya akan melahirkan sekitar 17-19 Desember 2004. Ternyata anak pertama saya lahir tanggal 19 Desember 2004 jam 10.50. Laki-laki. Lutfan Nizami Arivain.

Hamil anak kedua. Saya mendapat informasi. Bahwa dokter tempat saya memeriksakan kandungan waktu hamil anak pertama itu ternyata bukan dokter spesialis kandungan. Hanya dokter umum.  Saya pindah ke salah satu rumah sakit umum terdekat. Seingat saya, rumah sakit ini sudah ada sejak ibu saya melahirkan anak ke tiga. Tahun 1978.

Dokter spesialisnya ramah. Ramah dalam artian sebenarnya. Bukan rajin menjamah. Pasiennya banyak. Mengantri untuk masuk kamar periksa bisa satu jam sendiri. Masuk kamar periksa juga tidak langsung ketemu sang dokter. Ketemu perawat dulu untuk di cek tekanan darah dan ditimbang berat badan. Kemudian menunggu lagi selama kurang lebih setengah jam. Ini baru giliran dokter memeriksa detak jantung s jabang bayi. Jadi urusan ini menghabiskan waktu hampir tiga jam. Padahal tatap muka dengan dokter gak sampai 15 menit.

Begitu terus selama hampir sembilan bulan. Diperkirakan si jabang bayi lahir sekitar tanggal 16 April 2006. Tanggal 4 April 2006 pagi, saat berangkat sekolah saya merasakan perut saya mulas. Siang harinya rasa mulas itu muncul lagi. Begitu pula sore hari. Malamnya seperti yang dijadwalkan saya memeriksakan kandungan saya.

Saya sampaikan bahwa hari ini saya sudah tiga kali merasakan mulas. Sang dokter spesialis kandungan tersebut mengatakan kandungan saya baik-baik saja. Saya diberi obat. Setelah saya tebus di apotik. Saya merasa aneh. Kok Dulcolac sih?. Bukannya ini obat pencahar. Tapi yang namanya percaya pada dokter. Obat itu saya minum juga.

Jam 3.00 dini hari keluar bercak merah. Saya berfirasat bahwa sebentar lagi akan melahirkan. Jam 4.00 saya ke bidan. Ternyata benar adanya. Jam 05.10 saya melahirkan anak kedua. Perempuan. Lyra Erisa Bellatrix. Saya kecewa dengan dokter spesialis itu. Bagaimana dia tidak mengetahui perkembangan kehamilan saya.

Saya memilih lahir dibidan pun ada alasan tersendiri. Menurut referensi yang pernah saya baca. Bidan relatif lebih sabar dibanding dokter dalam hal penanganan proses kelahiran normal. Selain itu saya tidak ingin menjadi objek komersil dokter. Yang sedikit-sedikit merekomendasikan operasi caesar.

Bukan tanpa dasar. Operasi caesar merupakan salah satu operasi besar loh. Kerjanya sebentar bila di banding dengan proses melahirkan biasa. Tapi uang yang diterima jauh lebih besar dari pada menunggui proses kelahiran biasa.

Kemudian segala akibat yang ditimbulkan pasca proses operasi menjadi tanggungan pasien. Maksudnya gak ada garansi kalau misalnya terjadi efek yang tidak diinginkan. Salah seorang teman pernah keluar cairan dibekas jahitan setelah operasi. Teman yang lain masih sering mengalami gatal dibekas jahitan. Padahal anaknya udah SD kelas 1.

Para ibu guru disekolah saya yang pernah mengalami persalinan normal dan persalinan melalui operasi caesar merekomendasikan persalinan normal. Alasannya, penderitaan pasca operasi caesar lebih dashyat dibanding penderitaan pasca melahirkan normal. Ada benarnya. Saudara ipar saya baru bisa berjalan setelah tiga hari operasi dilakukan. Itu pun dengan dipapah adik saya.

Disamping itu menurut mereka pada jaman dahulu hampir semua perempuan bisa kok melahirkan normal, gak peduli yang pinggulnya kecil, yang plasenta bayinya pendek, yang jalan keluarnya tertutup plasenta, dan lain-lain.

Trus bagaimana cara agar saya bisa melahirkan secara normal? pertanyaan saya. “Banyak jalan kaki ketika usia kandunganmu sudah mulai tua” Jawab para ibu guru tersebut.

Pernah juga saya mengalami keluhan nyeri dipergelangan kaki dan lutut.  Pasca banjir bandang tahun 2007. Saya ke praktek dokter umum. Diberi suatu obat. Harga perlembarnya Rp 30 000,00 sampai lembar kedua masih tidak reda juga. Saya simpulkan jika obat habis maka rasa nyeri itu datang lagi.

Telepon lagi sepupu suami. Si dokter spesialis jantung ini menanyakan obat yang diberikan. Ternyata itu hanya obat pereda rasa sakit. Pantas, jika obat habis maka rasa nyeri itu datang lagi. Saya diberi obat sejenis yang berfungsi sama. Obat generik. Hanya Rp 2 500,00 per lembar.

Hah…. bedanya jauh banget. Rp 30 000,00 dengan Rp 2 500,00. Fungsinya sama. Ketika saya tanyakan penyebab penyakit saya ini. Dia mengatakan bahwa saya kurang olah raga. Terutama olah raga jalan kaki. Sejak itu saya rajin jalan kaki. Alhamdulillah. Tidak lagi mengalami keluhan itu.

Saya merasa pasien berada dalam posisi yang sangat lemah bila berurusan dengan dokter maupun dengan rumah sakit.

Beruntung terdapat tiga orang dokter di keluarga besar suami. Tiga orang ini satu generasi dengan suami. Hanya satu yang ada hubungan darah dengan suami. Yang dua lagi karena hubungan perkawinan. Mereka masing-masing bersuamikan sepupu suami saya.

Sepertinya generasi berikutnya harus ada dokter lagi deh.  Dokter yang benar-benar dokter. Yang kompeten dibidangnya.

3 thoughts on “Prita Mulyasari

  1. BREAKING NEWS !!!
    TANGGAPAN KEJATI BANTEN ATAS PEMERIKSAAN JAKSA YANG MENUNTUT PRITRA:
    “Kita tidak berbicara siapa yang akan kemudian bertanggung jawab terhadap pembuatan …(BAP),yang penting, tapi siapa yang harus bertanggung jawab mereka yang melakukan tindakan pidana (PRITA). Saya berikan apresiasi kepada jaksa tersebut!!”

  2. HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s