Mogok Sekolah

Jum’at 5 Februari 2010.

Anak saya yang pertama. Lutfan. Seorang anak laki-laki. Bersekolah di  TK A. Tidak ingin berangkat ke sekolah. Sakit perut. Nanti muntah loh. Begitu alasannya. Kami, saya dan suami menuruti keinginannya.

Senin 8 Februari 2010.

Lutfan tidak mau pergi ke sekolah. Masih dengan alasan yang sama. Nanti muntah loh. Dibujuk-bujuk. Eh malah nangis. Kami jadi berpikir. Ada apa ini? Sepertinya berhubungan dengan muntah. Namun Lutfan berangkat ke sekolah juga.

Saya khawatir hal ini berlarut-larut. Memang beberapa hari lalu dia muntah disekolah. Suami saya, menugaskan saya untuk menyelesaikan masalah ini.

Selasa 9 Februari 2010.

Masih tidak mau berangkat ke sekolah. Tetap dengan alasan yang sama. Nanti muntah loh. Dibujuk-bujuk. Eh nangis. Tapi masih mau berangkat walau dengan wajah manyun.

Saya antar ke sekolahnya. Saya menemui guru kelasnya dan kepala sekolah. Bermaksud menanyakan ada kejadian apa disekolah yang menyebabkan Lutfan enggan ke sekolah. Informasi dari mereka adalah tidak ada kejadian yang membuat tidak nyaman saat Lutfan muntah. Saya mengamati interaksi Lutfan di kelasnya. Dia tidak bersemangat.

Saat tiba di rumah setelah pulang dari  sekolah,  saya tanya apakah dia muntah. Dia menjawab tidak. Kemudian saya beri dia penghargaan berupa toast dan pujian. Setelah berganti pakaian dia pamit ingin mengunjungi Defran. Defran adalah salah satu teman sekelasnya.

Rabu 10 Februari 2010.

Lutfan masih enggan berangkat ke sekolah. Saran dari bapak-bapak dan ibu-ibu guru adalah sebaiknya selama di sekolah dia ditunggu atau cuti saja dulu.

Sayajuga bertanya dengan murid-murid saya yang kelas XI SMA itu. Sebagian mereka ada yang seperti Lutfan di waktu TK. Mogok sekolah. Biasanya karena diganggu teman. Penyelesaiannya adalah cuti. Sampai mereka ingin kembali ke sekolah.

Jika besok masih seperti itu, saya bermaksud mencutikan dia. Sampai dirumah,  saya bertanya pada Lutfan. Apakah dia pergi ke sekolah? Dia bilang ya. Muntah gak? Jawabnya enggak. Saya puji-puji saja. Saya beri hadiah wafer Tango. Dia senang sekali.

Kamis 11 Februari 2010.

Jam 9.00 saya telepon ke rumah. Bermaksud menanyakan apakah Lutfan mau ke sekolah. Ternyata setelah bangun tidur dia minta mandi dan ingin ke sekolah. Senang mendengarnya.

Sesampainya dirumah. Seperti biasa saya tanya apakah dia ke sekolah hari ini? Apakah dia muntah? Saya beri dia hadiah donat kentang. Dia suka donat.

Kesimpulan saya,  Lutfan merasa tidak nyaman  ketika dia muntah beberapa hari lalu. Hal ini membuat dia enggan ke sekolah.

Sore ini saya kasih hadiah apa lagi ya?

2 thoughts on “Mogok Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s