Kota Malang

Pertama kali mengunjungi kota Malang. Waktu itu liburan akhir tahun ajaran. Menjelang saya masuk SMA. Diajak oleh adik ibu saya. Beliau ini kebetulan bertugas di kota Malang. Dengan menggunakan kereta api, saya, seorang adik , dan seorang sepupu juga dengan om saya tentu. Menuju stasiun kota Malang. Saat itu adalah pertama kali saya menggunakan jasa transportasi kereta api.

Kesan pertama adalah udara yang relatif sejuk. Maklum, saya kan anak pantai. Om saya tinggal di daerah Buring. Selain berkeliling dalam kota,  saya mengunjungi kota Batu, beberapa kawasan candi, pantai Ngliyep, waduk Karang Kates, dan (seharusnya) Bromo. Karena waktu berangkat ke Bromo itu dini hari, sedangkan saya susah dibangunkan Jadi saya batal ke Bromo

Kali kedua saya datang ke kota ini adalah di pertengahan tahun 1994. Yap. Saya kuliah di kota kecil ini. Walau kedua orang saya mengiming-iming untuk kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta yang cukup populer di Jakarta. Saya tidak bergeming. Ketika saya sampai di lingkungan kampus pilihan saya itu. Sempat kaget. Kok gini ya? Tapi ini kan sudah jadi pilihan saya. So, the show must go on.

Bahasa adalah kendala utama. Saya tidak mengerti bahasa Jawa. Padahal orang-orang disana sering PD aja berbahasa Jawa dengan saya. Tinggalah saya yang enggak nyambung. Pernah suatu ketika saya bertemu salah seorang senior di jalan. Saya ditanya: “Sampeyan arep nang eNdi? Eh saya  malah menjawab tidak sesuai harapannya. Karena saya pikir dia tanya “Dari Mana?” Saat itu memang saya baru keluar dari suatu rumah makan.  Jadi saya jawab dengan bahasa Indonesia :”Dari rumah makan.” Si senior menautkan alisnya. “Kamu enggak ngerti bahasa Jawa ya?” Kali ini menggunakan bahasa Indonesia.

Kemudian pertanyaan yang saya agak bingung jawabnya adalah: “Sampeyan wong eNdi?  Saya ini. Dibilang orang Jakarta, tapi enggak lahir di Jakarta. Dibilang orang Riau, tapi cuman 10 bulan tinggal di Riau.

Saya lahir di Riau. Sejak usia 10 bulan tinggal di Jakarta. Saya sendiri saja masih bertanya-tanya. Saya ini orang Riau atau orang Jakarta sih?😀 Definisi “wong eNdi” itu kayak apa?

Di Malang saya jadi anak kos. Mencuci dan menyetrika pakaian juga merupakan masalah tersendiri bagi saya. Lha wong seumur-umur saya belum pernah melakukan perkerjaan ini.

Tahun pertama saya di Malang, rujak cingur adalah salah satu makanan yang saya hindari. Selain tampilannya yang tidak menarik. Saya merasa aneh saja. Itu buah-buahan kok dicampur dengan sayur-sayuran. Belum lagi bahan lain yang konon kabarnya adalah cingur. Kata orang-orang cingur itu adalah mulut sapi. Iiihhhh…

Suatu saat saya ke tempat ibu angkat om saya. Saya ditawari rujak. Saya pikir rujak seperti rujak yang saya tahu selama ini. Jadi saya iyakan saja tawaran itu. Ketika pesanan saya datang. Saya kaget. Ini kan rujak yang selama ini saya hindari.

Ternyata di kota Malang, yang dimaksud rujak adalah rujak cingur. Sedangkan yang dimaksud rujak dalam benak saya, kalau di Malang disebut rujak manis. Terpaksa deh saya makan rujak cingur. Itu sejarah pertama kali makan rujak cingur.

Masih tahun pertama di Malang. Pernah suatu hari. Setelah selesai berbelanja di pasar besar. Saya keluar dari pasar tersebut. Mau pulang ke tempat kos. Saya sudah ingat-ingat angkotnya. Angkotnya adalah yang bertulisan LDG. Saya enggan menunggu dalam angkot yang sedang ngetem. Jadi saya cegat saja angkot sejenis yang sedang lewat.

Tunggu ditunggu kok gak sampai di tempat tujuan saya ya. Ternyata walau bertulisan sama yaitu LDG. Juga sama-sama melewati pasar besar. Angkot yang saya tumpangi ini menuju terminal Gadang. Seharusnya saya menumpang angkot LDG yang menuju terminal Dinoyo. Jadi saya nyasar deh.

Malang adalah salah satu kota yang menyenangkan bagi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s