Sarana Berkomunikasi

Sebagai warga DKI Jakarta. Hampir setiap hari saya melewati tempat-tempat umum dikota ini. Ditempat-tempat umum sering dijumpai kalimat-kalimat dari Pemda DKI Jakarta. Kalimat-kalimat tersebut merupakan salah satu sarana berkomunikasi.

Sebagai sarana berkomunikasi, seharusnya pembaca dapat memahami apa yang dimaksud kalimat tersebut sesuai apa yang dimaksud oleh penulis. Namun sering kali saya mendapati kalimat tersebut tidak sesuai dengan kaidah berbahasa. Sehingga maksud penulis tidak sampai kepada pembaca. Berikut ini tiga contoh yang saya temui.

A. Duabelas jalur destinasi wisata pesisir.
1. Taman Suaka Margasatwa Muara Angke
2. Sentra Perikanan Muara Angke
3. Kawasan Sunda Kelapa (Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Menara Syahbandar, Galangan Kapal VOC)
4. Kampung Luar Batang
5. Sentra Belanja Grosir Pasar Pagi Mangga Dua
6. Taman Impian Jaya Ancol (sekarang Ancol Bay City)
7. Bahtera Jaya Ancol
8. Stasiun Tanjung Priok
9. Jakarta Islamic Centre
10. Kampung Tugu (Gereja Tugu, Rumah Tua, dan Pusat Bahasa & Kesenian)
11. Kampung Marunda (Masjid Al-Alam 2, dan Rumah Si Pitung)
12. Sentra Belanja & Pusat Kuliner Kelapa Gading

Destinasi dalam kamus bahasa Indonesia mengandung arti tempat tujuan atau tempat tujuan pengiriman. Merujuk kalimat “Duabelas jalur destinasi wisata pesisir”, menurut saya yang ditulis berikutnya bukanlah nama-nama tempat wisata pesisir. Jika maksud Pemda DKI adalah menuliskan tempat-tempat wisata pesisir. Maka kata “jalur” tidak perlu. Cukup ditulis “Duabelas Destinasi Wisata Pesisir.

Berikunya adalah imbauan-imbauan yang ditulis pada bagian belakang bus Transjakarta. Pada tulisan terdahulu, saya mencermati tulisan “Awas !!! Anda jangan masuk jalur busway –> Berbahaya”. Dimana tulisan tersebut secara logika matematika, justru menganjurkan pengendara lain memasuki jalur busway. Alhamdulillah tanda “–>” sudah tidak digunakan lagi. Sekarang tertulis ” Awass!!! Anda jangan masuk jalur busway. Berbahaya.”

Masih pada kalimat-kalimat imbauan dibagian belakang bus tersebut. saya melihat terdapat dua kalimat imbauan. Yang mungkin bermaksud sama. Kalimat tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia dan dalam bahasa Inggris. Yaitu :

B. Gunakan Busnya. Jangan ambil Jalurnya.
C. Take the bus. No it’s way.

Perhatikan kalimat B. Pada kalimat “Gunakan busnya” terdapat akhiran kata “nya”. Akhiran “nya” dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai kata ganti bentuk ketiga. Yang menjadi pertanyaan adalah akhiran kata “nya” pada kalimat tersebut merujuk bagian yang mana? Dengan demikian akhiran kata “nya” dalam kalimat tersebut tidak perlu. Lebih tepat ditulis “Gunakan bus ini. Jangan ambil jalurnya!

Perhatikan kalimat C. Kalimat  “Take the bus. No it’s way.” adalah dua kalimat yang tidak berhubungan. Tidak dapat dipahami apa maksud kalimat No it’s way. Jika maksud pemda DKI menuliskan kalimat B dalam bahasa Inggris. Maka seharusnya ditulis “Take the bus but not its way!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s