Nabi Muhammad SAW

Hari ini. Juma’t 21 Januari 2011. Diruang guru sekolah kami. Seorang teman menceritakan kembali salah satu ceramah yang didengarnya didaerah Tangerang. Tentang betapa pentingnya memilih seorang istri soleha. Berikut kisah-kisah para nabi dengan istri-istrinya. Tentunya termasuk kisah nabi Muhammad SAW dengan istri-istrinya dan anak yang diamanahkan dari pernikahan tersebut.

Berdasarkan kisah teman saya tersebut maka sayapun tertarik menjelaskan mengapa nabi Muhammad SAW tidak diberi anak laki-laki. Suatu tinjauan secara logika matematika.

Misalkan diketahui dua pernyataan yang berturut-turut dinotasikan dengan p dan q.

p: Dari ayah seorang laki-laki … dengan ibu seorang perempuan …

Simbol … adalah suatu kondisi yang akan diisi dengan salah satu dari kata: soleh, tidak soleh, soleha,  dan  tidak soleha. Dengan demikian terdapat empat kemungkinan keadaan yang dapat terjadi. Yaitu:

(a)       Dari  ayah adalah seorang laki-laki soleh dengan ibu adalah seorang perempuan soleha.

(b)      Dari  ayah adalah seorang laki-laki soleh dengan ibu adalah seorang perempuan tidak soleha.

(c)       Dari  ayah adalah seorang laki-laki tidak soleh dengan ibu adalah seorang perempuan soleha.

(d)      Dari ayah adalah seorang laki-laki tidak soleh dengan ibu adalah seorang perempuan tidak soleha.

Misalkan pada pernyataan p diberikan nilai kebenaran yaitu:

(i)      bernilai benar (notasi B) untuk masing-masing item (a) dengan (b),

(ii)    bernilai salah (notasikan S) untuk masing-masing item (c) dengan (d)

q: …. anak yang dilahirkan soleh/soleha

Simbol …. adalah suatu kondisi yang akan diisi dengan salah satu dari kata: semua atau tidak semua. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan keadaan yang dapat terjadi. Yaitu:

(e)   Semua anak yang dilahirkan soleh/soleha

(f)     Tidak semua anak yang dilahirkan soleh/soleha

Tentu saja nilai kebenaran item (e) adalah B. Sedangkan nilai kebenaran item (f) adalah S.

Berikut ini empat kemungkinan yang dapat terjadi pada p dengan q.

Keadaan p           keadaan q

1.    (a)                          (e)

2.    (b)                          (f)

3.    (c)                           (e)

4.    (d)                          (f)

Berdasarkan kisah para nabi, dapat dilihat bahwa:

  • contoh item 1. adalah p: nabi Ibrahim AS dengan istrinya,  dan  q: semua anak yang dilahirkan soleh.
  • contoh item 2. adalah p:nabi  Nuh AS dengan istrinya, dan q: tidak semua anak yang dilahirkan soleh/soleha.

p dengan q dihubungkan dengan operator logika p implikasi q, dibaca jika  p maka q, dan disimbolkan dengan p –> q.

Berikut ini tabel nilai kebenaran p –> q.

p                     q                             p–>q

B                     B                             B

B                     S                              S

S                      B                             B

S                      S                              B

Andaikan nabi Muhammad SAW diberikan anak laki-laki, berarti si anak laki-laki ini berasal dari keadaan yang sesuai dengan item (a). Sebut anak laki-laki ini sebagai generasi pertama yang tentu saja sekaligus memenuhi kondisi sesuai item (e).

Namun kelak ketika generasi pertama ini menjadi seorang ayah maka kemungkinan keadaan yang  sesuai dengan dirinya adalah item (a) atau (b).

(*)    Jika item (a) yang terjadi maka berdasarkan tabel nilai kebenaran p–>q pada  item 1 berarti keadaan item (e) terjadi. Sehingga nilai kebenaran p–>q adalah B.

(**) Jika item (b) yang terjadi maka berdasarkan tabel nilai kebenaran p–>q pada  item 2 berarti keadaan item (f) terjadi. Sehingga nilai kebenaran p–>q adalah S.

Tentu saja  dalam hal ini item (**) tidak diharapkan terjadi.

Itulah penjelasan secara logika matematika tentang mengapa nabi Muhammad SAW tidak diberi anak laki-laki.

Pada diskusi yang cukup seru tersebut. Terdapat juga pandangan dari guru sosiologi. Bahwa mengapa nabi Muhammad SAW diputus silsilah keturunanya. Perlu diketahui cucu nabi, Hasan dan Husain wafat. Tinjauan sosiologisnya adalah agar tidak ada orang yang mengaku-ngaku sebagai keturunan nabi Muhammad SAW.

Sedangkan pendapat mengenai pentingnya memilih istri seorang perempuan soleha. Ditimpali juga oleh salah satu guru agama non Islam. Alkisah terdapat dua pasang suami-istri.

Pasangan pertama, sebut sebagai pasangan A. Pada pasangan A, baik suami maupun istri, masing-masing adalah orang saleh. Misalkan pada pasangan A: simbol suami adalah As dan simbol istri Ai.

Pasangan kedua, sebut sebagai pasangan B. Pada pasangan B, baik suami maupun istri, masing-masing adalah orang tidak saleh. Misalkan simbol suami adalah Bs dan simbol istri Bi.

Karena baik pada pasangan A maupun pasangan B tidak dikaruniai anak. Maka mereka memutuskan bercerai. Kemudian masing-masing orang tersebut membentuk keluarga baru. As menikah dengan Bi. Sedangkan Bs menikah dengan Ai. Dari dua keluarga baru tersebut,  hanya dari pasangan Bs dengan Ai sajalah lahir semua anak saleh.

Kesimpulannya adalah bahwa hanya dari ibu seorang perempuan soleha sajalah dilahirkan semua anak soleh/soleha. Pertanyaan yang timbul dalam diskusi tersebut adalah mengapa hanya wanita saja yang disyaratkan harus soleha.

Demikianlah. Semoga bermafaat.

2 thoughts on “Nabi Muhammad SAW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s