Star Trek Into Darkness

Seperti yang sudah pernah saya tuliskan, bahwa saya ini bukan penikmat film. Walau demikian adalah satu film yang saya ikuti ceritanya. Saya menyukai film-film drama romantis, terlebih yang berlatar masa lalu. Romeo and Juliet, Ever After, Titanic, dan yang terakhir saya ikuti adalah Twilight Saga.

Selain mengangendakan liburan berdua saja setiap semester, saya dan suami juga mengagendakan nonton berdua diakhir pekan.

Suami saya memiliki selera yang berbeda dengan saya dalam hal menonton film. Dia menyukai film-film yang bernuansa teknologi, sains, dan masa depan. The Matrix, Avatar, Transformer, dan yang baru saja kita tonton adalah Star Trek Into Darkness. Kami menonton film tersebut diteater Imax 3D Mal Kelapa Gading 3.

Ini kedua kali saya menonton film diteater 3D. Karena saya berkacamata, maka saya menjadi memakai kacamata dobel. Pertama-tama saya merasa agak tidak nyaman. Saya berusaha menghilangkan ketidaknyamanan tersebut dengan berkonsentrasi ke film. Pada saat menonton suatu film, banyak hal yang saya perhatikan. jalan cerita, ekspresi pemain dalam melafazkan dialog , setting, dan alat-alat penunjang dalam film tersebut.

Karena menontonnya diteater 3D, terkadang saya terkejut. Refleks saya mengelak ketika anak panah melesat atau serpihan ledakan dalam salah satu adegan seolah-olah menuju saya🙂

Star Trek adalah suatu film berlatar masa depan. Ketika manusia menemukan teknologi yang memungkinkan dilakukan penjelahan ruang angkasa dalam satu galaksi dengan menggunakan suatu pesawat yang berkecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Ternyata diluar sana terdapat banyak planet memiliki kehidupan dan peradaban. Ada planet yang peradapannya lebih primitif dari peradapan manusia. Namun banyak pula planet yang memiliki peradapan yang jauh lebih maju dibanding peradapan manusia.

Pada saat itu dipermukaan bumi ini tentu saja tidak relevan lagi berbicara mengenai nasionalisme😀 Yang ada adalah manusia sebagai satu spesies penghuni planet bumi. Yang relevan dibicarakan adalah bagaimana menjaga keharmonisan hubungan penghuni antar planet dalam suatu galaksi.

Into Darkness sendiri menceritakan seorang admiral dari bumi yang membangunkan salah satu spesies super. Spesies ini berwujud seperti manusia dan diberikan nama John Harrison. Spesies ini bernama asli Khan Noonien Singh. Seorang (anggaplah seperti manusia🙂 ) kapten dengan 72 awak kapalnya beku selama 300 tahun. Setelah berhasil hidup kembali, Khan melalui tangan orang lain meledakkan Markas Starfleet dibumi. Kemudian jadilah ia buronan. Khan melarikan diri ke Kronos, yang dihuni oleh Klingon. Klingon adalah spesies yang tidak bersahabat. Jika manusia datang kesana maka sama halnya dengan menantang perang dengan spesies Klingon.

Karena saya tidak mengikuti serial Star Trek, maka banyak hal yang jadi pertanyaan saya. Dalam perjalanan pulang, saya mempersilakan suami saya menceritakan tentang serial-serial Strak Trek. Dan suami saya semangat sekali menceritakan hal-hal mengenai film-film Star Trek sebelumnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s