Cinta Perlu Bukti

Ketika seseorang menyatakan bahwa ia minat, ingin, senang, suka, atau cinta terhadap sesuatu maka pernyataan tersebut perlu dibuktikan. Bagaimana mungkin orang lain percaya pada seseorang yang menyatakan minat untuk belajar dijurusan IPA jika bukti – bukti tidak menunjukkan hal tersebut. Ciri khas pelajaran di kelas IPA adalah Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi.

Hampir semua siswa kelas X ingin melanjutkan ke kelas XI IPA. Namun fakta tidak menunjukkan bahwa yang bersangkutan (ybs) minat dijurusan IPA. Sebagai contoh adalah seseorang menyatakan ingin belajar dijurusan IPA tetapi ybs mengeluhkan keadaan yang dianggap tidak mendukung dalam mempelajari pelajaran IPA, seperti pelajarannya susah, guru sering tidak hadir, atau guru menerangkan dengan tidak jelas. Padahal jika guru bertanya siapa yang belum mengerti, ybs diam saja. Begitupun jika ditanya siapa yang mengerti, ybs juga diam saja. Keadaan seperti ini dapat ditafsirkan “tidak mengerti = diam = mengerti”. Contoh lain, dalam pelajaran Matematika saja masih remedial. Diberi kesempatan remedialpun ybs tidak mengikuti.

Padahal jika pernyataan minat terhadap pelajaran IPA dianggap setara dengan cinta terhadap pelajaran IPA, maka cinta perlu bukti, lebih lanjut cinta butuh pengorbanan. Orang yang sedang jatuh cinta akan selalu berusaha menemukan cara untuk “menaklukkan” objek yang dicintainya itu. Gunung akan didaki, lautpun diseberangi, begitu kan? Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada orang yang sedang jatuh cinta😀 Kalau hanya guru tidak hadir atau guru menerangkan dengan tidak jelas. Itu mah hanya masalah kecil.

Ini adalah tulisan saya mengenai cinta perlu bukti.

Semasa pendidikan dasar, pelajaran yang saya senangi adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Jangan ditanya alasannya. Saya sendiri juga tidak dapat menemukan alasannya🙂

Pernah suatu ketika saat saya duduk dibangku SMA, saya memperoleh nilai 3.5 (nilai maksimal 10) untuk ulangan harian Matematika pertama saya. Materi Dimensi Tiga. Saya belum pernah dapat nilai seperti itu. itu nilai terburuk saya dalam mempelajari matematika selama pendidikan dasar.

Sedih. Tentu saja. Saya berjanji bahwa hal ini tidak akan terulang lagi. Maka saya melakukan sejumlah perubahan strategi belajar saya. Jika sebelumnya saya belajar hanya sehari menjelang ulangan, maka saya mengubahnya dengan mencicil belajar setiap hari sepulang sekolah.

Pun jika dikelas ternyata guru tidak dapat hadir, maka saya berusaha membaca berulang-ulang materi dalam buku pelajaran saat itu sehingga saya mengerti. Masih tidak mengerti juga? Sayapun bertanya kepada teman yang saya anggap lebih mengerti.

Setelah menamatkankan pendidikan dasar (SMA), saya merencanakan melanjutkan ke program studi Matematika pada salah satu perguruan tinggi. Waktu itu saya berpikir bahwa agar saya dapat diterima diprogram studi Matematika pada salah satu perguruan tinggi nanti, maka saya harus diterima diprogram studi A1 terlebih dahulu.  Kemudian, agar  saya dapat diterima diprogram studi A1 maka nilai – nilai akademik saya untuk pelajaran IPA harus memenuhi syarat.

Masalah berikutnya adalah saya tidak begitu suka dengan pelajaran Fisika dan Kimia. Bagaimana nih? Hanya demi agar dapat mempelajari matematika di program studi A1 (sekarang jurusan IPA) maka saya juga berusaha untuk dapat mengerti pelajaran Fisika dan Kimia. Padahal jika diperhatikan jumlah jam pelajaran Fisika dan Kimia dijurusan A1 itu lebih besar dibanding jumlah pelajaran Matematika itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s