Membahagiakan Anak?

Pagi ini saya mendapati status seorang teman : “Renungkan..! Andai emak, bapak punya uang…apa yang kamu minta pasti dibelikan le…, gak ada orang tua yang gak pengen ngebahagiain anaknya….emak dah belikan tas,sepatu, baju lebaran, sekarang minta BB….,padahal untuk makan besok emak belum punya, belum lagi bayar cicilan kredit seragam dan baju lebaran, sepatu kamu le..le…ngerti dikit ya…maafkan emak”. Kemudian, saya berkomentar padanya: “Mengabulkan semua permintaaan anak tidak sama dengan membahagiakan anak, pak.”

Sebagian orang tua mungkin berpendapat bahwa mengabulkan semua permintaaan anak sama dengan membahagiakannya. Alasannya adalah orang tua bekerja keras membanting tulang siang dan malam demi keluarga (anak). Namun, tidakkah mereka berpikir tentang dampak dari dengan mudah mengabulkan keinginan anak? Anak akan berpikir bahwa semua hal yang mereka inginkan dalam hidup ini dengan mudah mereka dapatkan. tidak perlu berusaha. Segera. Bahkan tidak perlu bersabar. Padahal hidup kadangkala berjalan dibawah harapan (keinginan).

Misalkan seorang anak yang belum berusia 17 tahun ingin dibelikan (mengendarai) sepeda motor? Menurut saya, mengabulkan keinginannya itu tidak sama dengan membahagiakannya. Justru orang tua mengabaikan keselamatannya. Bagaimana mungkin orang tua membiarkan anaknya mengendarai sepeda motor, sementara SIM saja belum punya.  Mengapa si anak tidak diajarkan untuk bersabar dalam hal ini. Bahwa dia boleh saja mengendarai sepeda motor jika telah cukup usia dan memiliki SIM.

Kemudian, ajarkan pula anak untuk berusaha dalam meraih keinginannya. Semua orang tua pasti sepakat bahwa dalam hidup ini, tidak semua hal yang kita inginkan dengan mudah kita dapatkan. Kita harus berusaha. Kadangkala sudah berusahapun masih tidak dapat juga.

Misalkan seorang anak ingin dibelikan sekuter, sementara dia belum lancar dalam hal membaca, maka syaratkan bahwa dia akan dibelikan sekuter jika sudah lancar membaca. Percayalah si anak akan berusaha sekuat tenaga untuk lancar membaca🙂 Jika dia mengaku telah lancar membaca maka ujilah dia dalam hal membaca. Jika sekiranya telah dianggap cukup maka tepati janji untuk membelikan sekuter. Jangan sampai anak menganggap orang tua sebagai pembohong. Lebih lanjut anak akan menganggap berbohong itu adalah suatu hal yang wajar saja. Bahaya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai orang tua yang bijaksana dalam mendidik anak-anak kita. Aamiin YRA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s