UN SD 2010 – 2011

Pekan lalu saya menemani anak saya latihan UN, kali ini anak saya menyelesaikan soal UN Matematika 2010 – 2011. Soal yang diujikan diantaranya:

“Uang Ani 3/5 uang Indri, sedang uang Indri 3/4 uang Mira. Jika selisih uang Ani dan uang Mira adalah Rp. 66.000,00 maka jumlah uang Ani dan Indri adalah….

A. Rp. 39.600,00

B. Rp. 49.500,00

C. Rp. 124.000,00

D. Rp. 144.000,00″

Komentar saya tentang soal di atas adalah terlalu tinggi tingkat kesulitannya jika diujikan untuk siswa SD.  Saya ingin tahu bagaimana penulis soal tersebut menjelaskan penyelesaian soal di atas agar dipahami oleh  siswa – siswa SD.

Berikut ini penyelesaian dari saya (yang bukan guru SD).

Misal uang Mira  = a,

uang Indri = 3/4 uang Mira = 3a/4,

uang Ani = 3/5 uang Indri = (3/5) (3a/4) = 9a/20.

Selisih uang Ani dan uang Mira = Rp. 66.000,00.

Perhatikan bahwa uang Mira, Indri, dan Ani berturut – turut adalah a, 3a/4, dan 9a/20. Jika disamakan penyebutnya maka uang Mira, Indri, dan Ani berturut – turut adalah 20a/20, 15a/20, dan 9a/20. Hal ini berarti uang Mira >  uang Ani.

Dengan demikian, selisih uang Ani dan uang Mira = 20a/20 – 9a/20 = 11a/20 = Rp. 66.000,00.

Uang Mira = a  = (20/11) × 66.000 = Rp. 120.000,00.

Jumlah uang Ani dan uang Indri

= (9a/20) + (15a/20)

= 24a/20

= 6a/5

= 6 × 120.000 ÷ 5

= Rp. 144.000,00.

Komunikasi

Pertemuan kita dengan seseorang untuk berkomunikasi pada masa ke masa makin bervariasi. Pada masa dahulu pertemuan kita dengan seseorang hanyalah bertatap muka dalam ruang yang sama. Seiring berjalannya waktu surat menyurat menjadi sarana berkomunikasi berikutnya. Surat menyurat ini pernah menjadi kegemaran saya di masa SMA, sampai ada istilah sahabat pena  🙂 Kemudian sms menjadi tren di awal tahun 2000an, berkumunikasi melalui chatting menjadi populer sejalan dengan populernya media sosial Facebook. Berkomunikasi melalui telepon juga pernah menjadi trend pada suatu masa, sampai warung – warung telepon (wartel) tumbuh bagaikan tumbuhnya jamur dimusim hujan. Setelah itu video call juga menjadi sarana berkomunikasi yang trend akhir – akhir ini.

Pada Suatu Pertemuan

Pada suatu pertemuanmu dengan seseorang. Pernahkah terpikir bahwa itu adalah ujian untukmu? Dan ketika Allah SWT mengujimu itu berarti kamu adalah hamba terpilih. Yang sedang diberikan kesempatan untuk naik kelas (derajat) olehNya.

Namun demikian, Dia tetap memberimu pilihan. Naik kelas, tinggal kelas, atau bahkan turun kelas.

Tentu saja harapanmu adalah naik kelas.

Maka bersabarlah.

Semoga Allah SWT menjadikan segala sesuatu sesuai harapanmu. Aamiin yra.

Sedekah

Sabtu pekan lalu ada pengajian di masjid komplek perumahan saya. Pengajian ini disampaikan oleh seorang ustadzah ternama. Tema pengajian saat itu adalah sedekah. Yang dibahas mengenai sedekah adalah definisi Sedekah, tingkatan sedekah, dan syarat agar amalan sedekah tersebut diterima Allah SWT.

Sedekah didefinisikan sebagai pemberian dari seseorang yang hanya mengharap ridho Allah SWT. Adapun tingkatan sedekah terbagi dua yaitu sedekah wajib dan sedekah sunah. Sedekah wajib ada 5 yaitu zakat, sedekah karena perkawinan, sedekah karena keturunan, kifarat, dan nazar. Sementara sedekah sunah ada 3 yaitu sedekah, infak dan wakaf. Ada 5 syarat agar amalan sedekah diterima Allah SWT, yaitu disembunyikan, tidak diungkit, memberikan hal yang disukai, banyak senyum, dan diberikan kepada yang berhak.

Demikian, semoga bermanfaat.

Mutasi

Kemarin ada tiga orang guru sepuh dari sekolah saya yang dimutasi ke sekolah lain. Beliau – beliau yang sudah mengabdi disekolah yang sama lebih dari 25 tahun.  Mutasi guru ini merupakan program dinas pendidikan DKI Jakarta. Baru diterapkan mulai bulan September 2015. Saran saya mengenai program ini adalah sebaiknya mutasi guru dilakukan di awal semester atau di awal tahun ajaran, dan guru yang  bersangkutan (ybs) diberitahukan paling tidak sebulan sebelumya. Alasannya adalah agar ybs dapat mempersiapkan diri lahir dan batin, mempersiapkan program kerja. Apalagi jika ditempat baru ybs diberi kelas yang berbeda, sebagai contoh selama ini ybs mengajar kelas 12, ternyata ditempat yang baru ybs mengajar di kelas 11 atau 10.

Mendidik Anak

Selama saya menjadi guru di SMA sejak tahun 2002. Ini pertama kali saya mengikuti konferensi kasus. Konferensi kasus adalah semacam dengar pendapat mengenai seorang siswa yang bermasalah (jika tidak ingin dikatakan sebagai pengadilan). Hal ini dikenai terhadap siswa yang melakukan banyak pelanggaran atau pelanggaran berat atas tata tertib sekolah. Dalam koferensi ini yang hadir adalah siswa yang melanggar tata tertib, orang tua siswa tersebut, wali kelas siswa tersebut, kepala sekolah, segenap wakil kepala sekolah, staf kesiswaaan, dan guru-guru yang bersangkutan. Pada umumnya konferensi ini menghasilkan keputusan bahwa  siswa tersebut dikembalikan kepada orang tuanya.

Pelajaran yang saya petik dari kejadian di atas adalah tidak mudah menjadi orang tua. Tidak ada Buku Panduan ataupun Kursus Bagaimana Seharusnya Menjadi Orang Tua. Sebagian yang saya lakukan adalah bertanya kepada orang – orang tua yang memiliki anak – anak baik. Orang – orang tua ini memberi masukan diantaranya adalah:

  1. beri makan anak – anak dari rejeki yang halal;
  2. orang tua harus seiya sekata dalam mendidik anak. Contoh yang tidak baik adalah: si ayah memarahi anak, eh pada saat yang bersamaan si ibu membela si anak di depan ayahnya dan didepan anak tersebut, atau sebaliknya; dan salah satu orang tua (biasanya si ibu) menutupi kenakalan anaknya dari si ayah; dan
  3. ajarkan anak untuk berusaha dalam mencapai apa yang dia inginkan. Contoh yang tidak baik adalah orang tua mengabulkan segala keinginan si anak, sekalipun keinginan si anak ini adalah hal yang mampu dilakukan orang tua. Seorang dosen pembimbing saya menceritakan bahwa ketika anaknya ingin berlangganan majalah maka beliau mensyaratkan si anak harus lancar membaca dahulu. Si anak pada saat itu sedang pada tahap belajar membaca. Sebagai orang dewasa, kita menyadari bahwa tidak semua hal yang kita inginkan pasti kita dapatkan, kita harus berusaha, kadang sudah berusahapun masih tidak dapat juga.

Demikian semoga bermanfaat.

Pembelajaran Matematika

Masih tentang perdebatan 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = … x … = … dan penyelesaian yang diberikan oleh seorang  mahasiswa teknik mesin adalah 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6 = 24, kemudian penyelesaian ini disalahkan oleh guru.

Berikut ini tampilan pekerjaan rumah yang disalahkan oleh si guru tersebut.

index

Maka berdasarkan gambar di atas, bermunculan sejumlah komentar untuk si guru. Beberapa komentar miring seperti: menganggap guru ini tidak kompeten, memalukan profesi guru, si guru harus ditegur, bahkan si guru harus dipecat. Masih banyak lagi komentar yang menyudutkan guru. Bagi yang berkomentar sejenis begini ini pertanyaan – pertanyaan saya adalah:

1. Apakah manusia – manusia yang berkomentar sejenis begini ini, kompeten dalam keilmuan matematika?

2. Apakah dia juga kompeten dalam psikologi pembelajaran?

3. Apakah dia memahami kurikulum untuk siswa kelas 2 SD?

4. Apakah dia mengetahui hal – hal yang sudah dipahami oleh siswa kelas 2 SD tentang keilmuan matematika sebelum siswa kelas 2 SD ini melakukan kegiatan pembelajaran mengenai perkalian?

5. Apakah dia membaca buku pelajaran matematika kelas 2 SD  tentang perkalian?

6. Apakah dia pernah mengajar siswa kelas 2 SD?

7. Apakah dia tahu bahwa memberi penilaian tentang pekerjaan siswa merupakan wewenang guru?

Jika masing – masing pertanyaan di atas di jawab “ya” maka dia tidak akan berkomentar miring tentang si guru.